Malam ini….tak seperti malam yang biasanya…
Ratih sendiri dalam lamunannya……tak henti
memikirkan nasib perjalanan cintanya. Seorang gadis belia yang berumur 17 tahun
sudah sewajarnya memiliki rasa cinta dan rasa ingin dicintai. Namun, tidak
dengan Ratih. Ia sudah memiliki seorang pacar yang selama ini dia idam-idamkan,
seseorang yang dia sangat cintai dan berharap dia juga mencintainya setulus
yang ia berikan padanya. Tetapi, takdir berkata lain. Ia tak pernah merasakan
itu semua kecuali mencintainya dengan tulus.
Riko. Nama cowok yang selama 3 tahun terakhir
ini menghiasi hatinya. Riko terkenal pandai dan pemain bulutangkis yang hebat
disekolahnya. Ratih tak menyangka kalau seorang Riko akan menjadi miliknya. Seseorang
yang sangat digilai oleh para kaum hawa karena kharismanya. Dari luar, Riko
sangat menarik hati namun dari dalam, dia tak seindah apa yang dilihat dari
luar. Itulah pendapat Ratih tentang Riko, setelah mengenal sesosok pemain bulu
tangkis itu. Ratih tak menyangka bahwa selama ini ia hidup dalam kebohongan
cinta Riko. Tapi, cinta Ratih akan selalu tumbuh walaupun ia tahu selama ini
Riko tak sepenuhnya menyayanginya dengan tulus.
Hari Senin….pukul 10.00. Jam istirahat sudah
datang.
“Pagi cantik…” Sapa sahabatnya Tasya.
“Ech…pagi…” Ratih tersentak kaget.
“Kok ngelamun ??? Riko lagi ya ???”
“Emm…Iya kayaknya.”
“Kok kayaknya ???mana ada orang ngelamun gak
tau tujuan.”
“Aku.”
“Ya ampun say…….please deh………..jangan mikir
soal Riko lagi. Dia lagi sibuk sama bulutangkisnya itu. Percuma kamu mikirin
dia, toh dia juga gak mikirin kamu.”
“Tapi dia pacar aku Sya…”
“Iya…aku tahu kalau dia pacar kamu. Tapi apa
itu yang dinamakan pacaran ???Dia sama sekali tidak menganggap kamu ada di
dunia ini. Cueknya setengah mati. Ya…aku tahu cowok yang cool itu banyak
digilai para kaum hawa. Tapi coolnya itu udah terlalu tinggi, diluar batas
kemampuan. Ngerti ??? ”
“Tapi….”
“Karena sayang ???”
“Iya.”
“Hufh…cinta emang bikin semua orang buta,
bikin mereka nggaka berfikir, kalau didunia ini nggak cuma cinta yang harus dipikirin.”
Ucap Tasya sambil meninggalkan Ratih sendiri dibangku taman yang sepi.
Sejenak Ratih berfikir. Ada benarnya ucapan
Tasya. Ia sungguh ingin melawan rasa ini, tapi pintu untuk keluar sudah
tertutup rapat terkunci dan sudah sangat terikat oleh rantai.
###
“Say….pulang bareng aku yuk ???” Tawar Tasya
pada Ratih.
“Emm…enggak dech. Aku nunggu Riko aja.”
“Riko…Riko…Riko…ya udahlah.
Daaa...hati-hati.” Ucap Tanya sambil meninggalkan sahabatnya itu sendiri lagi.
Ratihpun bergegas pergi ke tempat bulutangkis
untuk menemui pujaan hatinya.
“Ko…cari’in tuh.” Ucap temannya yang melihat
kedatangan Ratih dilapangan.
“Siapa ???”
“Ya pacar kamulah.”
“Ow.”Ucap Riko dengan datar saat melihat
Ratih dengan jarak 5 meter. Rikopun menghampirinya.
“Ngapain kesini ??? Aku masih ada latihan
buat pertandingan. Kamu pulang dulu aja.” Ratih terdiam mendengar ucapan Riko
yang terlihat seakan tak mengharapkannya.
“Kok diem ??? Kenapa ???” Ucap Riko sambil
menundukkan badannya agar sepadan dengan tinggi Ratih.
“Sebenarnya….aku kamu anggap apa sich ???”
“Kok tanyak gitu ??? Ya pacar lah sayang…kamu
ragu sama aku ???”
“Iya.” Jawab Ratih dengan meneteskan air
matanya.
“Jadi…selama ini…kita pacaran dengan
keraguan. Iya ???”
“Awalnya enggak. Tapi lama kelamaan rasa itu
terasa.” Riko menegakkan badannya lagi.
“Kamu slalu mikirin bulutangkis. Kamu nggak
pernah mikirin aku. Kamu nggak pernah nelfon aku. Nggak pernah sms aku. Nggak
pernah nanyak kabar aku. Nggak pernah mau tahu keadaan aku. Ini yang kamu sebut
pacaran ??? Ini yang kamu sebut sayang sama aku ???” Emosi Ratih mulai muncul
dan Riko terdiam mendengar ucapan Ratih. Riko enggak pernah melihat Ratih
se-emosi ini. Riko mengenal Ratih sesosok gadis yang cantik, manis, pendiam,
dan baik.
“Aku…”
“Kenapa ???Enggak bisa jawab. Atau emang kamu
udah nggak sayang lagi sama aku ???” Teriakan Ratih membuat siapapun yang
mendengar menoleh padanya.
“Aku sayang sama kamu. Tapi…1 minggu terakhir
ini aku sedang menghadapi pertandingan.”
“Iya sekarang…dulu…kemana aja ??? 2 minggu
aku nunggu kabar dari kamu. Aku udah nyoba tanyak sama anak-anak. Enggak ada
yang tahu.Kalau udah nggak sayang bilang. Aku nggak keberatan SAMA SEKALI.”
Ratihpun pergi dengan berurai air mata.
“Apa aku salah ???” Tanya Riko lirih pada
diri sendiri.
“Ko…kalau emang kamu sayang sama Ratih, nggak
seharusnya kamu kayak gini.” Ucap temannya dengan segala petuahnya.
###
Esoknya…….Sepulang sekolah. Riko udah berada
didepan pintu kelas Ratih. Menunggu kehadirannya dengan membawa setangkai mawar
putih. Ratih kaget saat melihat Riko berada didepan kelas dan terlihat
sepanjang lorong sudah sepi, karena semua murid sudah berhamburan keluar.
Namun, Ratih tak menghiraukan keberadaan Riko disana. Dia ingin melaju
sekencang mungkin selagi dia bisa pergi jauh-jauh dari Riko. Tapi tangan Riko
lebih cepat untuk mencegah niat Ratih untuk
kabur.
“Kenapa sich ???” Ucap Ratih sambil melepas
pegangan Riko. Namun tangan Riko terlalu kuat untuk dilepaskan.
“Lepasin nggak ???”
“Dengerin aku”
“Apa yang harus aku dengerin ???..... Udah
jelaskan. Selama ini…cinta kamu itu hanya sementara. Cinta kamu hanya untuk
bulutangkis.”
“Dengerin aku dulu.”
“Udahlah ko…aku capek…lepasin.” Ucap Ratih
lelah. Kemudian, Riko melepas genggammannya dan menyodorkan setangkai mawar
putih yang ia bawa.
“Nggak usah, terima kasih…kasih aja sama diri
kamu sendiri. Sebagai penghargaan atas prestasimu dalam bulutangkis.” Ucap
Ratih datar dan meninggalkan Riko yang terdiam.
###
Akhir pekanpun datang….hari yang sangat Ratih
nantikan, karena dia tak harus bertemu Riko lagi disekolah. Tapi semua mimpinya
sirna.
“Tok….tok” Suara pintu kamar Ratih terdengar.
“Non…ada Mas Riko.” Ratihpun langsung
membukakan pintu kamarnya.
“Bilangain…aku lagi sibuk sama bulutangkis.”
“Bulutangkis…???” Bibi bingung dengan ucapan
Ratih.
“Udah bilangin aja kayak gitu.”
“Iya non.” Saat bibi akan beranjak
pergi…tiba-tiba…..
“Kenapa ???” Suara seorang cowok yang sangat
ia kenal. Bibipun pergi meninggalkam mereka berdua untuk bicara dan Riko
mendekat menghampiri Ratih yang berdiri didepan pintu kamarnya.
“Kenapa apanya ??? O…tersinggung ???”
“Enggak.”
“Ya udah. Nggak masalah kan.” Ucap Ratih yang akan masuk
kamar dan ingin menutup pintu kamar serapat-rapatnya. Tetapi, Riko lebih gesit.
Tangan kiri Ratih ditarik keluar dan segera menutup pintu kamar dan berdiri
didepan pintu yang bercat putih kupu-kupu.
“Ada apa lagi sich…??? Belum puas bikin aku
nangis ??? Belum puas bikin aku sakit ??? Belum puas bikin aku………” Belum
sempat melanjutkan ucapannya, Riko sudah
mendekap Ratih. Membuat Ratih diam dan menagis lagi dalam pelukan hangat yang
diberikan Riko.
“Mau kamu apa ???” Tanya Ratih yang masih
menangis dalam dekapannya.
“Aku ingin…kita nggak marah-marahan lagi,
nggak ada keraguan diantara kita. Aku minta maaf selama ini aku kurang
perhatian sama kamu. Aku lebih mementingkan bulutangkis. Aku selalu cuek dan
gak ingin pernah tahu kabar kamu. Aku minta maaf. Aku sayang sama kamu. Dan
nggak ada yang bisa ngalahin rasa sayang aku ke kamu termasuk bulutangkis.”
Ratih tersentak kaget. Dia nggak pernah sama sekali mendengar kalimat yang
menyentuh dari mulut Riko. Hanya sekali, yaitu saat Riko menyatakan cinta
padanya.
“Aku juga sayang sama kamu Ko.”
Akhirnya, hubungan mereka lebih baik bahkan
jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi…ada satu keganjalan untuk Ratih. Mengapa
saat itu Riko bisa berbuat seperti itu padanya. Ratih tak tahu faktor apa yang
membuat dia seperti itu. Tapi…bagi Ratih “biarlah…toh sekarang sudah seperti
yang dia inginkan.” Ratih terlihat lebih ceria dan bahagia begitu pula Riko,
permainannya jauh lebih memuaskan dan dia sadar bahwa sebenarnya dia sangat
mencintai Ratih. Tasya, sahabat Ratih pun ikut senang atas berita yang ia
terima langsung dari Ratih. Tasya berharap, mereka bisa bersama sampai akhir
hayat.