Kamis, 31 Januari 2013

0 Cinta Senja Itu Chapter 1

Juna. Cowok yang misterius, pendiem, dan pintar. Nggak heran kalau dia jadi idaman cewek-cewek disekolahku. Peduli amat sama namanya ‘JUNA’. Bagi mereka yang penting tampang bukan nama, apalagi dia kaya…wuih…tambah banyak tuh penggemarnya. Hampir semua cewek mengagumi seorang Juna, termasuk aku, tapi bedanya, aku nggak seheboh mereka-mereka. Ya.....aku akui tampangnya cakep, kulitnya putih, tinggi, otaknya encer, penampilannya keren, kaya pula, tapi ada sifat yang enggak aku suka dari jaman nenek moyang hingga sekarang (jaman nenek moyang ? Udah lair ya ? hehehehe…hanya perumpamaan.) yaitu SOMBONG. Tampang, penampilan dan harta sih bisa untuk dipuji, tapi kalau sifatnya sombong ya sama aja. Anehnya kebanyakan cewek-cewek bilang itu bukan sombong, tapi karisma yang terpancar olehnya. Huek. Apaan tuh ? Karisma ?. Hmm...Biarlah…namanya juga nge-fans.
Oke…kita kenalan dulu. Aku Tiara. Tiara Eka Pratiwi. Aku baru kelas 1 di SMA 2 XY (Maaf..kita tidak menyebutkan merek.). Satu sekolah sama Juna yang sekarang kelas 2. Rumah nggak begitu jauh dari sekolah jadi bisa jalan kaki kalau berangkat atau pulang sekolah dan nggak begitu jauh pula dengan rumah Juna. Ya iyalah nggak jauh. Rumah Juna didepan rumahku. Gara-gara rumahku yang terlalu strategis sama rumahnya Juna, banyak temen-temen (Yang cewek doang, ngapain yang laki ngikut !!) pada nimbrung kerumah yang alasannya maenlah, pengen tau keluargakulah, ngerjain pr barenglah dan lain sebagainya. Padahal, tujuan mereka hanya satu, pengen ngeliat Juna. Huh…tiap hari harus nyediain makanan buat mereka (kayak  panti asuhan dong.). Tapi kadang juga aku tolak. Nggak mungkin juga kan tiap hari mereka pada kerumah. Enak aja. Mereka pikir rumahku singgasana buat nonton konsernya Juna ?
Dari kecil…ya sekitar umur 7 tahun aku udah tetanggaan sama Juna. Kita nggak begitu akrab. Saat kecil Juna nggak pernah keluar rumah. Maennya sama baby siternya muluk. Ya…gimana kita bisa akrab. Ampek sekarangpun kita jarang,eh…bukan jarang sih, lebih tepatnya nggak pernah saling menyapa walaupun udah 9 tahun kita tetanggaan. Aku sich nggak peduli, bodo amat sama si Juna. Kayaknya dia punya dunia sendiri yang nggak ingin diketahui banyak orang. Jadi jangan heran kalau aku nggak seheboh mereka-mereka. Kenapa ya…setiap sekolah pasti ada cowok paling keren dan cewek paling cantik, gak ada yang biasa-biasa aja ya ???. Tapi untungnya, disini cewek paling cantiknya nggak ada, jadi siapa aja boleh deketin si Juna. Sebenernya, aku pengen banget tau tentang Juna, tapi kayaknya mustahil. Dia orangnya pendiem. Sekali ngomong yang penting-penting doang. Gila kali ya tu anak, ngirit banget kalo ngomong. Pantesan temennya dikit.

*To Be Continued*

0 Tentang Kita Part 5

Dinginnya malam berubah menjadi sejuknya pagi. Ayam mulai berkokok mengiringi munculnya sang surya. Air yang mengalir dari sumur yang ditimba oleh bibi terdengar sampai telinga Rasya yang terbangun karenanya. Perlahan dia membuka matanya yang sangat sulit untuk dibuka karena dia terlalu lelap dalam mimpi.
“Jam……………HA ??? Udah jam 9 pagi ???” Ucapnya sambil mengambil jam weker yang berada di sebelah kanan tempat tidurnya.
“Kok nggak ada yang bangunin ???” Ucapnya sambil keluar dari kamar dengan membawa handuk dan pakaian bersih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah, kira-kira 20 menit berada disana, Rasya keluar dengan pakaian yang rapi, harum, dan cantik pastinya. Dia menuju ruang makan untuk sarapan. Perutnya sudah berulah sejak berada dikamar mandi.
“Pagi Eyang….tadi kok enggak bangunin aku sih yang ???” Ucap Rasya sambil menyendok nasi goreng buatan bibi.
“He…he…tadi niatnya mau bangunin kamu, tapi kelihatannya kamu tidurnya pules. Jadi niat Eyang batalin.”
“Rasya kan punya acara Eyang. Jadi harus bangun lebih awal.”
“Acara ??? Ooo…pantes…dateng-dateng kok udah mandi, wangi, cantik lagi…janjian sama Tyo to nduk ???” Goda Eyang padanya.
“Ih…Eyang…apa-apaan sich. Iya janjinya sama Tyo, tapi kan bukan buat pacaran, Rasya ngajak Tyo buat keliling kampung kok.” Jawabnya sambil tersipu malu akibat goda’an dari Eyang.
“Lho…siapa yang bilang pacaran nduk-nduk…Eyang nggak bilang lho ya…???” Kata Eyang tersenyum sambil meninggalkan meja makan. Rasya seperti salah tingkah saat itu. Membuat kedua pipinya merah merona.

D                 D                 D

“Assalamualaikum….kulo nuwun…”
“Wa’alaikumsalam….ealah Tyo. Nyari Rasya to ??bentar yo le…tak panggilkan dulu. Masuk sini dulu le. Bentar yo.” Kata Eyang dengan wajahnya yang sudah renta.
“Iya Eyang…makasih.” Kata Tyo sambil duduk dibangku kayu didepan rumah Eyang  yang asri.
“Hai…udah nuggu lama ???” Kata Rasya dari belakang  mengejutkan Tyo.
“Egh…enggak kok, baru juga dateng. Jadi kan ???”
“Ya jadilah. Ayo.” Katanya dengan hati yang senang. Tapi…baru selangkah maju………..
“Eh…eh…mau kemana ???mau main kabur aja. Pamit dulu sama Eyang.” Ujar Eyang dari belakang.
“Eh…iya ya. Ma’af Eyang…aku lupa…he…he…he…” Kata Rasya nyengir sambil melangkah menuju Eyang untuk menjabat tangan bliau dan menciumnya.
“Kalau sama pacar slalu inget, sma Eyang sendiri lupa. Gimana to nduk ???”Kata Eyang sedikit menggoda.
“Ha….pacar ??? Siapa yang ???”Katanya sambil kebingungan. Tyo yang berada diluar tersenyum mendengar ucapan Eyang.
“Ya itu….siapa lagi.” Ucap beliau sambil menunjuk pada Tyo.
“Eyang…apa-apaan sich. Enggak lucu ah. Ya udah…aku berangkat dulu.”
“Hati-hati nduk. Tyo…..titip cucu Eyang ya…”
“Iya Eyang. Mari.” Kata Tyo mengakhiri.


*Bersambung*

Jumat, 25 Januari 2013

0 Tentang Kita Part 4



…………………3 jam kemudian…………….

“Assalamualaikum. Kulo nuwun……”
“Wa’alaikum salam. Tyo, ono po le ???”
“Eyang, Rasyanya ada ???”
“Ada. Udah ketemu to sama Rasya ???”
“Udah Eyang tadi pagi waktu Rasya jalan-jalan.”
“Pantes pulang dari jalan-jalan dia senyam-senyum sendiri, lawong ketemu orang ganteng.”
“Eyang………….apa-apa’an sich.” Ucapku dari kejahuan.
“Eyang……Tyo minta izin buat ngajak Rasya maen kerumah.”
“Ooo……yo wes gak po-po. Tapi ngati-ngati ya.”
“Iya eyang ku tercinta. Pergi dulu yang.” Ucap Rasya pada eyang sambil mengecup pipi eyang yang seperti kulit bayi lembut tanpa dosa.

…………….dalam perjalanan……………….

“Kamu ada urusan apa kerumah eyang ???”
“Nggak ada urusan apa-apa. Mulai sekarang aku tinggal di rumah eyang.”
“Lho…memangnya rumah kamu di Bali kenapa ???”
“Enggak kenapa-kenapa koq, ya semenjak bunda meninggal semua keluargaku hancur.” Setelah mendengar kalimat yang Rasya ucapkan, Tyo mengerem dengan tiba-tiba sampai jidad Rasya kebentur punggung Tyo.
“Aduh……kenapa sich ?? jidadku sakit tau.”
“Iya…ma’af. Kata-kata kamu yang bikin aku kaget. Maksudnya hancur itu gimana ???”
“Nanti aja ceritanya kalau udah sampek rumah. Nanti tak cerita’in disini bisa-bisa aku kelempar sampek sawah.”
“Yo wes. Ma’af ya…” Ucap Tyo sambil tertawa kecil.
“Iya. Udah cepetan.” Ucap Rasya sambil memegangi jidadnya yang baru terbentur.

D               D               D

Mereka akhirnya sampai ditempat tujuan, yaitu rumah Tyo. Rasya sempat tercengang kaget meliat perubahan dirumah Tyo.
“Ini beneran rumah kamu ???”
“Nggeh Mbak yu. Masak lupa sama jalan kerumahku ???”
“Emm…bukannya lupa, tapi rumahnya.”
“Mentang-mentang situ dari kota.”
“Eh…bukan itu maksud aku. Tapi kamu dapet uang dari mana kok bisa merenovasi rumah sebagus ini ???”Tanya Rasya sambil menyusuri halaman rumah Tyo yang luas dan indah bagaikan halaman istana.
“Oiya…aku belum cerita ya. Sekarang ini aku udah jadi arsitek, mimpiku dari kecil dulu.”
“Oya … ??? Wah…bagus donk. Selamat ya …. !!”
“Terimakasih. Emm…ya udah, kamu duduk disini dulu, tak ambilne minum, bentar ya…” Anggukan yang Rasya balas sambil melihat desain rumah Tyo yang begitu indah. Rumahnya di Denpasar aja kalah sama ini.

…………………15 menit kemudian………………….

“Monggo tjah ayu….”
“Makasih……rumahmu kok sepi ??? orang-orang pada kemana ???” Tanya Rasya sambil meneguk minuman segar.
“Ibu sama bapak lagi keluar ngurus panen, adikku Tia lagi sekolah. Ya jadi sepi dech.”
“Emm…tinggal disini nyaman ya…jauh dari keramaian.”
“Emang. Makanya walaupun aku dapat tugas diluar kota, aku harus menyempatkan untuk dateng kerumah. Ya…buat refresing dikit-dikitlah.”
   Rasya tersenyum kecil pada Tyo.
“Eh…tadi kamu mau ceritakan soal keluarga kamu ??”
“Eh…iya sampai lupa. Jadi gini……………” Jelas Rasya panjang lebar.
“Ouw…jadi gitu ceritanya. Bagus dech.”
“Bagus ??Apanya yang bagus ?? Temen susah kok dibilang bagus ?? Aneh.” Tanya Rasya bingung dengan ucapan Tyo dengan wajah sedikit memerah.
“Ha…eh…enggak kok. Maksud aku pilihan kamu dateng kesini itu bagus.Disinikan suasananya nyaman. Ya nggak ???”
“Ouw…iya sich…aku suka. Minggu ini sibuk nggak, aku mau jalan-jalan, …sekalian mengenal komplek desa yang kecil nan indah ini. Soalnyakan aku menetap disini, jadi kalau kemana-mana biar nggak nyasar.” Jelas Rasya panjang lebar.
“Emm…mungkin bisa, tapi kalau nanti aku ada perubahan jadwal jangan marah ya…??”
   “Iya…masak temen mau nyari nafkah aku larang juga. Enggak etis banget.” Jawabnya sambil melontarkan senyum indah. Tyo Terpana akan senyumanya yang diiringi wajah Rasya yang cantik bak bidadari.
*To be Continued*

Rabu, 23 Januari 2013

0 Tentang Kita Part 3




Perjalanan jauh menuju Yogya sangat melelahkan bagi Rasya. Sepanjang perjalanan dia selalu teringat oleh Ayahnya. Dia ingin sekali bertemu dengan Ayahnya. Dia teringat saat beliau memanggilnya dengan sebutan sayang, anak Ayah yang paling cantik, anak Ayah yang paling manja. Suara seorang Ayah sangat ia harapkan. Apalagi saat-saat seperti ini. Dia ingin berada disamping Ayah dan mendengar keluh kesah dan berjuang bersama dalam menghadapi semua ini. Tapi impiannya sangat bertolak belakang. Sekarang, Ayahnya hilang dan entah pergi kemana.
“Assalamualaikum nek,” Salam Rasya pada sebuah rumah sederhana tapi membuat hati Rasya sedikit lebih tenang.
“Wa’alaikum salam. Lho…??? Cucu Eyang datang ke sini kok nggak bilang-bilang to ??? Oalah nduk-nduk, kalau tau gini Enyang kan bisa suruh orang buat jemput to nduk.”
“Nggak apa-apa Eyang…kan Rasya juga udah gede.”
“Yo wis…masuk-masuk. Mbok…bawa’in barang-barang kedalam ya.”
“Nggeh Budhe.”Sapa simbok dari belakang.
Rasya memasuki rumah eyang yang sudah 2 tahun lebih aku tak berkunjung kesini.
“Ada apa kok cucu eyang dateng kesini ???”
“Gini Eyang…………………………….” Rasya menceritakan semua yang telah dia alami akhir-akhir ini di Denpasar.
“Oalah…nduk-nduk....bapak kamu itu gimana to….baru saja ibumu meninggal, sekarang sudah bikin masalah lagi dan sekarang kabur.”
“Udahlah Eyang, kalau Ayah masih sayang sama keluarganya pasti beliau nelfon atau ngabarin keluarganya.”
“Ya wes lah……bapakmu ora usah dipikir. Eyang aja yang mikirin, mendingan kamu istirahat aja. Kamarnya tau to…???”
“Iya Eyang, Rasya masih inget kok. Ya udah Rasya istirahat dulu.”
“Iyo nduk.” Akhir kata Eyang.

D               D               D

Keesokan harinya, tepat pukul 06.00 WIB, Rasya berjalan-jalan menyusuri daerah tempat Eyangnya tinggal. Sudah lama dia tak berkunjung dan berjalan-jalan di daerah sini. Walaupun tempatnya kampoeng, tapi keadaan lingkungan disini masih alami dan asri. Oleh karena itu,mengapa Rasya lebih memilih tinggal disini.Denga suasana seperti mungkin akan membantunya.
“Rasya……” Seorang pemuda memanggilnya dari arah berlawanan sambil mengendarai sepeda ontelnya. Dan dia berhenti di hadapan Rasya denag raut wajah yang bahagia.
“Ma’af…anda siapa ???” Tanya Rasya bingung.
“Tapi ini betul Rasya kan ???”
“Iya saya Rasya, anda siapa ???” Tanya Rasya sekali lagi.
“Masak lupa sama temen sendiri.”
“Emm……”ucap rasya  sambil mengingat kembali.
‘Sepertinya aku udah nggak asing lagi sama wajahnya, tapi siapa ya ???’gumamnya dalam hati.
“Ya ampun Sya…belum ingat juga ??” Gelengan kepala Rasya menjawab pertanya’an pemuda ini.
“Aku Tyo. Inget kan ???”
“Ya ampun Tyo. Ma’af aku bener-bener lupa. Gimana kabarnya ??”
“Apik. Kowe dhewe piye ???”
“Sama aku baik-baik aja. Sekarang tambah ganteng.”
“Bisa aja. Situ juga tambah cantik.”
“Makasih. Boleh nggak aku maen kerumahmu ?? udah lama nich nggak maen.”
“Boleh aja, tapi jangan sekarang ya…aku ada urusan, nanti kalau aku udah pulang,aku tak kerumah eyang, kamu tunggu dirumah ae.”
“Oke…sekarang jadi orang sibuk nich ?”
“Alah……enggak juga. Yo wes ya…ntar tak jemput.”
“Iya.”
‘OMG……Tyo sekarang ganteng banget, sama orang Bali aja kalah.’ Gumam Rasya dalam hati dengan senyum yang menghiasi bibirnya..

*Bersambung*

0 Rasa Luka Yang Tertinggal Part 2

Malam itu...aku tak bisa tidur, aku selalu teringat akan perkata’an Ray dan keada’an yang sedang menimpanya saat ini. Aku tak sanggup melihat ekspresi Nayla jika dia tau semua ini. Saat pertama kali Ray masuk dalam kehidupan kita berdua, Nay sudah jatuh hati padanya. Namun Nay tak mau berterus terang padanya, walaupun Ray sudah tau kalau Nayla menyukainya. Itulah yang namanya cinta. Malu Tapi Mau......... J J J, dan akhirnya ketahuan juga.
              
..........Siang hariku bagaikan malam
               ..........Pelangipun berwarnakan kelam
               ..........inikah yang dinamakan patah hati

               Deringan hp ku berbunyi......dengan mata setengah terbuka,tanganku meraba-raba meja disamping tempat tidurku untuk mencari handphone.
               “Hallo ??”
               Sa, ini aku Nay, jam setengah sebelas aku jemput ya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ini penting banget. Bye......!!”
               “Eh...tu.....hallo ??belum sempat ngomong udah dimati’in,kebiasa’an.”

.....................15 menit kemudian.................................

               Ting...Tong... Ting...Tong...Ting...Tong...
               Tanpa menunggu lama, ku langsung membukakan pintu untuk sahabatku Nayla, tapi......kusalah menduga. Tamu itu adalah Ray.
               “Lho.....koq kamu yang dateng ??”Tanyaku kebingungan.
               “Emang kamu kira siapa ??”
               “15 menit yang lalu Nayla telfon mau kesini, tapi kok kamu yang dateng.”
               “Aku butuh temen buat curhat. Ngobrol bentar ya...nggak lama koq.”
               “Ya udah, tapi 15 menit, nggak lebih nggak kurang soalnya bentar lagi Nayla mau dateng kesini.”
               “Iya...beres.”
               Kamipun beranjak dari rumah menuju tempat hening.
               “Besok pagi, aku berangkat ke Amerika. Tapi mungkin nggak akan pernah kembali lagi kesini.”
               “Apa...??”Teriakku kaget mendengar ucapan dari Ray.
               “Tapi kamu bilang cuma sebulan,sekarang koq jadi slamanya.”tambahku.
               “Aku udah mikirin ini matang-matang dan ini keputusan paling baik yang bisa aku ambil.”
               “Kamu tega banget jadi cowok. Mungkin aku bisa rela kamu pergi ke Amerika slamanya, tapi Nayla ??dia nggak bisa Ray. Nay udah sayang sama kamu lama banget dan sekarang kamu pergi ke Amerika tanpa mikirin perasaan Nay sekarang yang nggak jelas.”
               “Aku tau itu, aku hargai perasaan dia ke aku, tapi aku sama sekali nggak sayang sama dia. Mungkin sebelum berangkat aku akan jelasin semua ini sama dia.”
               “Apa ??kamu udah gila ??itu sama aja ngerusak hatinya. Dia nunggu kamu lama, tapi hasilnya ditolak mentah-mentah trus ditinggalin ke luar negeri.”
               “Ya trus aku harus gimana ??nggak mungkin juga kan aku gantungngin perasa’annya.”
               “Nggak ada cara lain apa ??”
               “Nggak ada. Itu udah pilihan yang terakhir, terserah kamu mau nerima atau enggak, tapi aku akan tetep ngelaku’in itu besok jam 09.00 di airport.”
               “Ya udah dech...terserah, tapi aku minta pelan-pelan ya ngomongnya. Aku awasin dari kejauhan.”
               “Oke...ya udah, aku pulang dulu. Sampai ketemu besok jam 09.00. Bye......”anggukan kepalaku menandakan iya atas pernyata’an Ray.
               Tak berselang lama Nayla menghampiriku.
               “Risa ??ngapain kamu disini ??aku kan nggak nyuruh kamu nunggu ditempat kayak gini ??”
               “Emm...aku pengen nyari angin aja koq. Ya udah masuk yuk.”Asalku pada Nayla.
                                                              #

               .............................keesokan harinya, tepat hari Sabtu pukul 08.30 aku dan Nayla berada di bandara..............
               “Tunggu-tunggu.”Stop Nayla.
               “Apa’an sich ??”
               “Kita ngapain sich kesini ??dateng kerumah orang pagi-pagi,trus diajak ke bandara. Emang siapa yang mau pergi ??”
               “Udah dech.....jangan bawel. Ikutin aku aja. Nanti kamu juga tau sendiri apa maksud dan tujuanku ngajak kamu kesini.”
              
               ...............setengah jam kemudian.......................
               “Hai...”sapa seorang laki-laki padaku dan Nay.
               “Ray.....koq kamu bisa disini ??”sambut Nay dengan gembira.
               “Itu maksud dan tujuanku.”Jelasku dengan raut wajah yang tak biasa.
               “Apa’an sich, beneran aku nggak ngerti.”Ucap Nay dengan seribu kebingungan.
               “Ray...kamu bisa mulai sekarang. Aku tinggal kalian berdua disini.”akupun meninggalkan mereka dengan rasa sedih dan terpukul.
               Sekitar 20 menit aku meninggalkan mereka. Rasa sedih dan khawatir teraduk menjadi satu dalam benak hatiku.

               ..................5 menit kemudian...............

               “Risa.....”Nay memanggilku dari belakang dan meneteskan air mata yang amat menyentuh hatiku.
               “Nay......”dia langsung menyandarkan tubuhnya padaku. Aku tak sanggup mengatakan apa-apa padanya. Hanya sandaran yang bisa aku korbankan padanya.

               Tak terasa seminggu sudah Ray pergi dan Nayla sedih akan hal itu. Sudah kucoba berulang kali untuk menenangkannya,tapi semua nihil. Sabtu sore, tepat pukul 16.00, aku datang kerumah sahabatku tercinta.
              
               ......Ting.....Tong......Ting.....Tong......Ting.....Tong......
               “Assalamualaikum.”
               “Wa’alaikum salam. Eh...mbak Risa, nyari mbak Nayla ya......??”
               “Iya bi, Nayla ada kan ??”
               “Maaf mbak, mbak Naylanya barusan keluar. Ya...kurang lebing 10 menit yang lalu.”
               Bibi tau kemana perginya Nay...??”
               “Aduh...maaf mbak, bibi nggak tau. Tapi biasanya, semenjak ditinggal sama mas Ray, mbak Nayla sering ke lapangan komplek sebelah mbak. Mungkin ingin menyendiri.”
               “Ya udah bi, makasih atas informasinya. Assalamualaikum.”
               “Ya sama-sama mbak. Wa’alaikum salam.”

               ......tak berselang lama, akhirnya ku menemukan Nayla di bawah kerindangan pohon......
              
               “Assalamualaikum.”
               “Wa’alaikum salam. Risa, koq tau aku disini ??dikasih tau sama bibi ya ??”
               “Iya. Kenapa harus milih tempat lapangan ?dimana-mana yang namanya menyendiri itu pasti ditempat hening, bukan lapangan, dan kalau kamu pengen curhat, kamu bisa ngobrol sama aku.”
               “Aku bingung harus gimana lagi untuk melupakan Ray. Cintaku sama dia udah terlanjur dalem, dan sekarang dia pergi ke Amerika forever dan cintaku ditolak mentah-mentah. Lengkap sudah penderitaanku. Dari dulu nasibku slalu sial.”
               “Kamu ngomong apa’an sich ??nggak baik tau ngomong gitu. Mungkin Allah SWT sedang merencanakan sesuatu hal yang paling terindah buat kamu dibalik musibah yang kamu alami sekarang.” Ucapku pada Nayla agar dia tak patah semangat.
               “Amien......”Ucapnya dengan menambahkan seyuman manisnya.
               “Nah, gitu donk, senyum. Seminggu cemberut terus. Mati satu tumbuh seribu...”
               J... J”senyum Nayla membuat hatiku lega.

               2 tahun aku lalui dengan suka-cita bersama Nayla sahabatku tercinta. Waktu yang membuat kita mendapat banyak pengalaman yang berharga. Dan selama itu pula Ray nggak pernah menjawab setiap e-mail yang aku kirim. Entah e-mailnya nggak pernah diurus atau dia nggak mau lagi berhubungan sama aku dan Nayla.
               Sejak itu, aku memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Ray. Aku sudah lelah mengikuti permainan dari Ray dan sudah cukup aku dan Nayla sakit karenanya. Mungkin apa yang diucapkan Ray bener-bener dia lakukan. Tak hanya meninggalkan Indonesia untuk selamanya, tetapi juga meninggalkan sahabat untuk selamanya.
               Selamat tinggal Ray, walaupun kau meninggalkan keperihan dan luka, tapi kita kan slalu mengenangmu. Semoga kau bahagia di tempatmu yang baru.
              
 

Cerita Kita Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates