Malam
itu...aku tak bisa tidur, aku selalu teringat akan perkata’an Ray dan keada’an
yang sedang menimpanya saat ini. Aku tak sanggup melihat ekspresi Nayla jika
dia tau semua ini. Saat pertama kali Ray masuk dalam kehidupan kita berdua, Nay
sudah jatuh hati padanya. Namun Nay tak mau berterus terang padanya, walaupun
Ray sudah tau kalau Nayla menyukainya. Itulah yang namanya cinta. Malu Tapi
Mau......... J J J, dan akhirnya ketahuan
juga.
..........Siang hariku
bagaikan malam
..........Pelangipun
berwarnakan kelam
..........inikah
yang dinamakan patah hati
Deringan hp ku berbunyi......dengan mata setengah
terbuka,tanganku meraba-raba meja disamping tempat tidurku untuk mencari
handphone.
“Hallo ??”
“Sa, ini aku Nay, jam
setengah sebelas aku jemput ya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ini penting
banget. Bye......!!”
“Eh...tu.....hallo ??belum sempat ngomong udah
dimati’in,kebiasa’an.”
.....................15
menit kemudian.................................
Ting...Tong... Ting...Tong...Ting...Tong...
Tanpa menunggu lama, ku langsung membukakan pintu
untuk sahabatku Nayla, tapi......kusalah menduga. Tamu itu adalah Ray.
“Lho.....koq kamu yang dateng ??”Tanyaku kebingungan.
“Emang kamu kira siapa ??”
“15 menit yang lalu Nayla telfon mau kesini, tapi kok
kamu yang dateng.”
“Aku butuh temen buat curhat. Ngobrol bentar
ya...nggak lama koq.”
“Ya udah, tapi 15 menit, nggak lebih nggak kurang
soalnya bentar lagi Nayla mau dateng
kesini.”
“Iya...beres.”
Kamipun beranjak dari rumah menuju tempat hening.
“Besok pagi, aku berangkat ke Amerika. Tapi mungkin
nggak akan pernah kembali lagi kesini.”
“Apa...??”Teriakku kaget mendengar ucapan dari Ray.
“Tapi kamu bilang cuma sebulan,sekarang koq jadi
slamanya.”tambahku.
“Aku udah mikirin ini matang-matang dan ini keputusan
paling baik yang bisa aku ambil.”
“Kamu tega banget jadi cowok. Mungkin aku bisa rela
kamu pergi ke Amerika slamanya, tapi Nayla ??dia nggak bisa Ray. Nay udah
sayang sama kamu lama banget dan sekarang kamu pergi ke Amerika tanpa mikirin
perasaan Nay sekarang yang nggak jelas.”
“Aku tau itu, aku hargai perasaan dia ke aku, tapi aku
sama sekali nggak sayang sama dia. Mungkin sebelum berangkat aku akan jelasin
semua ini sama dia.”
“Apa ??kamu udah gila ??itu sama aja ngerusak hatinya.
Dia nunggu kamu lama, tapi hasilnya ditolak mentah-mentah trus ditinggalin ke
luar negeri.”
“Ya trus aku harus gimana ??nggak mungkin juga kan aku
gantungngin perasa’annya.”
“Nggak ada cara lain apa ??”
“Nggak ada. Itu udah pilihan yang terakhir, terserah
kamu mau nerima atau enggak, tapi aku akan tetep ngelaku’in itu besok jam 09.00
di airport.”
“Ya udah dech...terserah, tapi aku minta pelan-pelan
ya ngomongnya. Aku awasin dari kejauhan.”
“Oke...ya udah, aku pulang dulu. Sampai ketemu besok
jam 09.00. Bye......”anggukan kepalaku menandakan iya atas pernyata’an Ray.
Tak berselang lama Nayla menghampiriku.
“Risa ??ngapain kamu disini
??aku kan nggak nyuruh kamu nunggu ditempat kayak gini ??”
“Emm...aku pengen nyari angin aja koq. Ya udah masuk
yuk.”Asalku pada Nayla.
#
.............................keesokan harinya, tepat
hari Sabtu pukul 08.30 aku dan Nayla berada di bandara..............
“Tunggu-tunggu.”Stop Nayla.
“Apa’an sich ??”
“Kita ngapain sich kesini ??dateng kerumah orang pagi-pagi,trus
diajak ke bandara. Emang siapa yang mau pergi ??”
“Udah dech.....jangan bawel. Ikutin aku aja. Nanti
kamu juga tau sendiri apa maksud dan tujuanku ngajak kamu kesini.”
...............setengah
jam kemudian.......................
“Hai...”sapa seorang laki-laki padaku dan Nay.
“Ray.....koq kamu bisa disini ??”sambut Nay dengan
gembira.
“Itu maksud dan tujuanku.”Jelasku dengan raut wajah
yang tak biasa.
“Apa’an sich, beneran aku nggak ngerti.”Ucap Nay
dengan seribu kebingungan.
“Ray...kamu bisa mulai sekarang. Aku tinggal kalian
berdua disini.”akupun meninggalkan mereka dengan rasa sedih dan terpukul.
Sekitar 20 menit aku meninggalkan mereka. Rasa sedih
dan khawatir teraduk menjadi satu dalam benak hatiku.
..................5 menit kemudian...............
“Risa.....”Nay memanggilku dari belakang dan meneteskan air mata yang amat
menyentuh hatiku.
“Nay......”dia langsung menyandarkan tubuhnya padaku.
Aku tak sanggup mengatakan apa-apa padanya. Hanya sandaran yang bisa aku
korbankan padanya.
Tak terasa seminggu sudah Ray pergi dan Nayla sedih
akan hal itu. Sudah kucoba berulang kali untuk menenangkannya,tapi semua nihil.
Sabtu sore, tepat pukul 16.00, aku datang kerumah sahabatku tercinta.
......Ting.....Tong......Ting.....Tong......Ting.....Tong......
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikum salam. Eh...mbak Risa, nyari mbak Nayla ya......??”
“Iya bi, Nayla ada kan ??”
“Maaf mbak, mbak Naylanya barusan keluar. Ya...kurang
lebing 10 menit yang lalu.”
“Bibi tau kemana perginya
Nay...??”
“Aduh...maaf mbak, bibi nggak tau. Tapi biasanya, semenjak ditinggal sama mas Ray, mbak Nayla
sering ke lapangan komplek sebelah mbak. Mungkin ingin menyendiri.”
“Ya udah bi, makasih atas
informasinya. Assalamualaikum.”
“Ya sama-sama mbak. Wa’alaikum salam.”
......tak berselang lama, akhirnya ku menemukan Nayla
di bawah kerindangan pohon......
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikum salam. Risa, koq tau aku disini ??dikasih tau sama bibi ya ??”
“Iya. Kenapa harus milih tempat lapangan ?dimana-mana
yang namanya menyendiri itu pasti
ditempat hening, bukan lapangan, dan kalau kamu pengen curhat, kamu bisa
ngobrol sama aku.”
“Aku bingung harus gimana lagi untuk melupakan Ray.
Cintaku sama dia udah terlanjur dalem, dan sekarang dia pergi ke Amerika forever dan cintaku ditolak mentah-mentah. Lengkap sudah penderitaanku. Dari dulu nasibku slalu
sial.”
“Kamu ngomong apa’an sich ??nggak baik tau ngomong
gitu. Mungkin Allah SWT sedang merencanakan sesuatu hal yang paling terindah
buat kamu dibalik musibah yang kamu alami sekarang.” Ucapku pada Nayla agar dia
tak patah semangat.
“Amien......”Ucapnya dengan menambahkan seyuman manisnya.
“Nah, gitu donk, senyum. Seminggu cemberut terus. Mati
satu tumbuh seribu...”
“J... J”senyum Nayla membuat
hatiku lega.
2 tahun aku lalui dengan suka-cita bersama Nayla
sahabatku tercinta. Waktu yang membuat kita mendapat banyak pengalaman yang
berharga. Dan selama itu pula Ray nggak pernah menjawab setiap e-mail yang aku
kirim. Entah e-mailnya nggak pernah diurus atau dia nggak mau lagi berhubungan sama aku dan Nayla.
Sejak itu, aku memutuskan untuk tidak lagi berhubungan
dengan Ray. Aku sudah
lelah mengikuti permainan dari Ray dan sudah cukup aku dan Nayla sakit
karenanya. Mungkin apa
yang diucapkan Ray bener-bener dia lakukan. Tak hanya meninggalkan Indonesia
untuk selamanya, tetapi juga meninggalkan sahabat untuk selamanya.
Selamat tinggal Ray, walaupun kau meninggalkan keperihan dan luka, tapi kita kan slalu mengenangmu. Semoga kau
bahagia di tempatmu yang baru.