Jumat, 08 Februari 2013

0 Tentang Kita Part 10


Malampun tiba disertai angin yang membara begitu dingin. Membuat bulu kuduk Rasya berdiri karena kedinginan. Malam ini yang dia tunggu. Dia memiliki sebuah kejutan untuk Tyo. Dia menyusuri jalan setapak dengan senyuman yang tiada henti dan selalu memikirkan Tyo sepanjang perjalanan. Hampir saja semua ingatannya yang indah musnah karena teringat ulah Indah tadi siang.
“Malam sayang.” Sapa Rasya tiba-tiba saat Tyo sedang menikmati rembulam malam itu.
“Ech…Rasya…ngapain malam-malam kesini ???”
“Lho…Eyang enggak cerita sama kamu ???”
“Cerita, tapi aku pikir kamu cuma bercanda.”
“Apakah dimatamu, aku ini masih kayak anak kecil yang mainnya cuma bercanda muluk ??? He ???”
“Enggak gitu. Ya udah…ma’af….daripada kita berantem, medingan langsung ngomong aja. Ada perlu apa seorang wanita cantik nan manis ini mau datang kerumah Tyo Bagaskara malam-malam pula ???”
“Aku punya berita yang bagus buat kamu. Bu Minah mau kerja direstoran kamu.”
“Serius ???”
“Iya…tapi, sebenernya masih dalam pemikiran sich, beliau minta 3 hari buat mikir. Tapi tenang aja, aku yakin 100% Bu Minah mau masakin buat restoran kamu.”
“Aku harap. Makasih ya sayang. Baik banget dech.” Ucap Tyo sambil memeluk Rasya dalam dinginnya malam.
‘OMG…..’ Gumam Rasya dalam hati.
“Ech…jangan lama-lama kalau ada yang lihat apa kata orang ???” Kata Rasya sambil melepas pelukan dari Tyo. Sebenarnya dia tak mau lepas tapi karena dia tahu sopan santun jadi terpaksa melakukannya.
“Ma’af-ma’af…terbawa suasana.”
Otak Rasya berputar. Dia ingin menanyakan langsung tentang perkataan Indah tadi siang tentang pinangan. Tapi Rasya bingung. Dia tak berani mengatakannya karena kalau jawabannya ‘IYA’ pasti akan terasa menyakitkan hatinya. Tapi, Rasya mengumpulkan semua rasa keberaniannya supaya hatinya tak lagi bertanya-tanya lagi.
“Emm…Tyo, aku mau tanyak tapi harus dijawab ya…” Ucap Rasya dengan keraguan.
“Ya jelas lah harus dijawab. Namanya juga pertanya’an.”
“Ih…kamu tu ya…diajak serius dikiiiit aja enggak bisa.” Kata Rasya dengan tampang cemberut.
“Iya-iya. Emangnya mau tanyak soal apa ???”
“Indah” Seketika itu juga raut wajah Tyo berubah. Dia heran, kenapa Rasya menanyakan soal Indah. Orang yang dia tidak suka.
“Tumben tanyak soal Indah ??? Kenapa kangen ???”
“TYO…..!!!”
“Iya-iya ma’af. Ini serius. Ok…aku dengerin.”
“Tadi siang, aku ketemu sama dia. Terus dia bilang aku suruh jauh-jauh dari kamu. Katanya kamu mau jadi pacarnya terus enggak berapa lama lagi, kamu mau nikah sama dia.”Ada penekanan sedikit untuk kata nikah, karena dia tak sanggup untuk berkata itu.
“Ya ampun Rasya. Jadi kamu cuma mau bilang itu ???” Jawab Tyo dengan tawa yang tak terhentikan. Dia seperti geli mendengarkan ucapan Rasya.
“Kok malah diketawa’in sich. Enggak ada yang lucu disini.”
“Ya abisnya pertanyaan kamu konyol. Enggak masuk akal.”
“Ha ???”
“Semua yang dibilang Indah itu cuma fiktif belaka. Pertama, aku lihat Indah aja udah mau muntah. Kedua, aku deket sama dia karena terpaksa. Dan yang ketiga, aku sama sekali enggak suka sama dia. Jadi gimana aku mau nikah sama orang yang enggak aku sayang.”
“Tapi, biasanya didesa itu kan kalau mau nikah enggak pakek rasa sayang, kalau lakinya tajir ya…langsung main ambil aja.”
“Mungkin sich…tapi buat aku enggak ada kata ‘dijodohin’ emangnya jaman Siti Nurbaya ???”
“Kenapa ??? Kamu takut kalau aku sampai dipaksa kawin sama Indah ???”
“Ha …ech..eng….” Muka Rasya langsung memerah dan bingung seribu bahasa.
‘Mati….mau jawab apa nich ???’
“Enggak-enggak. Cuma bercanda aja sayang.” Timpal Tyo sambil tersenyum. Entah itu senyum bahagia atau senyum menggoda Rasya yang sedang memerah.

*Bersambung*

0 Tentang Kita Part 9


“Eyang…Rasya pamit dulu ya.” Pamit Rasya nyelonong langsung menuju pintu depan.
“Eh…tunggu dulu to nduk, kamu mau kemana to nduk ???enggak nunggu Tyo dulu ???” Tanya Eyang membuat langkah Rasya terhenti.
“Rasya enggak janjian sama Tyo yang, Rasya pengen jalan-jalan sendiri. Nanti kalau Tyo dateng nggak usah nyari’in Rasya. Nanti malam Rasya mau maen kerumahnya. Ya udah nek, takut telat nich. Dada Eyang…Rasya sayang sama Eyang.” Ucap Rasya sambil berlalu dan melambaikan tangan pada wanita tua renta yang sedang melambaikkan tangannya untuk balasan dengan raut wajah yang dipenuhi senyuman-senyuman kecil.
Sekitar 15 menit kemudian, ternyata yang diduga Eyang benar. Tyo datang kerumah dan pastinya mencari Rasya.
“Eyang…Ad
“Rasya kan ???tadi dia keluar tapi Eyang enggak tahu kemana, terus pesannya tadi, kamu enggak usah nyari’in soalnya nanti malam dia mau main kerumah kamu.”
“O..gitu ya yang. Padahal Tyo mau ajak jalan-jalan wisata kuliner didesa ini.”
“Belum waktunya. Ditundakan bisa to le.”
“Iya udah dech…Tyo pamit dulu ya Eyang. Mangga.”

D                 D                 D

“Pagi Bu Minah….”
“Pagi…ealah nak Rasya. Ayo duduk sini. Mau makan apa ???”
“Saya kesini nggak mau makan bu. Saya mau ngomong sesuatu sama Ibu Minah.”
“Waduh…ngomong apa ya nduk. Ibu kok jadi deg-degan kayak gini.”
“Ibu tenang aja. Saya nggak akan nyakitin Ibu kok. Kedatangan saya kesini, saya mau nawarin bisnis sama ibu.”
“Bisnis opo to nduk ???Ibu enggak mudeng.”
“Gini bu, Tyo kan punya restoran dikota, kenapa makanan ibu yang khas ini enggak dijual disana aja, kalau lakukan lumayan bisa menambah penghasilan.”
“Aduh nduk, Ibu nggak berani, takutnya orang kota itu enggak suka.”
“Dicoba aja dulu bu. Kalau tidak dicoba kan ya…mana bisa tahu hasilnya ???”
“Enggak usah repot-repot nduk, ini aja udah cukup. Terimakasih.”
“Ya udah, gini aja…gimana kalau percobaan satu bulan, kalau enggak berhasil saya yang tanggung ganti rugi selama satu bulan, tapi kalau dalam satu bulan bisa laku keras, ibu mau kan buat makanan ini untuk restorannya Tyo ???”
“Aduh piye ya nduk, Ibu bingung.”
“Kalau masih bingung, saya kasih waktu buat Ibu mikir. Gimana ???”
“3 hari.”
“OK..kalau Ibu maunya 3 hari saya turutin. Tapi harus dipertimbangkan sematang mungkin. Kalau ibu untungkan bisa nyekolahin anak Ibu yang paling kecil, terus bisa ngelanjutin ke perguruan tinggi untuk anak ibu yang sulung.” Rayu Rasya agar Ibu Minah mau mengikuti permainannya.
“Iya udah bu. Rasya pamit dulu, 3 hari lagi saya kesini. Mari.”
“Iya nduk. Mari-mari.” Ucap Ibu Minah.
‘Yes….akhirnya, moga aja Ibu Minah mau, tapi aku yakin 100% kalau Ibu pasti mau sama tawaran aku.’ Gumam Rasya dalam hati.
Namun, lamunan kebahagiaan rasya hancur saat dia bertemu Indah ditengah perjalanan pulang. Sungguh diluar rencana Rasya. Dia tak mau marah-marah hari ini. Tapi sepertinya itu akan terjadi padanya saat ini juga.
“Hei…” Sapa Indah padanya.
“Siapa ??? Aku ???” Rasya pura-pura bertanya, padahal dia tahu siapa yang dimaksud Indah.
“Iya…sampeyan.” Jawab Indah dengan sejuta mata iblis yang akan siap keluar menerkam Rasya.
“Kenapa ???” Tanya Rasya.
“Eh…aku bilangin ya…jangan suka cari perhatian sama Mas Tyoku. Ngdrti ???”
“Siapa ??? Mas Tyomu ??? Kalian udah pacaran ???belumkan jadi kenapa aku jauhin dia ???” Tanya Rasya beruntun membuat Indah terjepit pada posisinya yang angkuh itu. Rasya sempat berfikir.
‘Ada juga orang desa yang sombong dan angkuh.’
“Ya…walaupun kita belun resmi, tapi aku yakin Mas Tyo akan memilih aku daripada kamu. Lagian apa sich bagusnya kamu ??? Jangan mentang-mentang anak kota, kamu bisa berbuat sesuka hatimu.”
“Ma’af ya…aku bukan orang seperti itu, jadi aku mohon jangan sembarangan memfitnah orang.”Ucap rasya menahan emosinya.
“Aku tidak memfitnah itu kenyataan.”
“Terserah kamu lah mau ngomong apa tentang aku. Tapi yang pasti, aku bukan orang yang seperti kamu pikirkan. Permisi.” Kata Rasya melewati Indah dan tak mempedulikan lagi Indah yang masih berdiri dengan bodohnya. Tapi seperti Indah tak mau kalah.
“Ya…terserah sich, tapi yang pasti dalam waktu dekat ini Mas Tyo akan meminang aku menjadi istrinya.” Ucap Indah dengan penuh keyakinan. Seketika itu juga Rasya langsung membalikkan badannya dan melihat Indah dengan bangganya mengucapkan kata-katanya itu diikuti senyum nenek sihir seakan mengejek Rasya.
“Bodo’. Peduli amat.” Kemudian rasya membalikkan badannya lagi dan menjauh dari nenek sihir gadungan itu karena dia sudah menahan emosinya melampaui batas.

*Bersambung*

0 Tentang Kita Part 8


Mereka Akhirnya sampai ditempat tujuan dan memesan makanan yang dibilang Tyo itu enak. Sesampai makanan datang.
“Hmmm….yummy !!”
“Enak kan ??? Apa aku bilang.”
“Iya, bener kata kamu. Belum pernah aku rasa’in masakan seenak ini. Eh…kenapa enggak kamu jual aja makanan ini restoran kamu ??? Jadikan Bu Minah bisa bertambah penghasilan.”
“Udah. Tapi beliau enggak mau. Katanya takut kalau enggak laku. Padahal udah aku bujuk berbagai cara, tapi tetep aja enggak mau.”
“Emm…gitu. Gimana kalau aku yang bujuk beliau ???”
“Aku aja yang udah dikenal sama beliau aja belum bisa nyangkut, apalagi kamu yang baru disini ???”
“Jangan meremehkan orang lain. Lihat aja nanti.”
“Enggak pakek jampi-jampi kan ???” Goda Tyo.
“Ya enggak lah.”Senyum terurai lagi dalam wajah Rasya dan membuat Tyo tidak ingin melupakan senyumnya yang indah itu.
Setelah beberapa menit kemudian mereka makan. Ternyata, tanpa mereka sadari, banyak orang yang berbicara tentang mereka. Mereka tampak heran memandang mereka berdua, terutama Rasya, yang baru didesa tersebut.
“Yo..kamu merasa aneh nggak ???” Tanya Rasya sambil memandang sekelilingnya yang penuh sesak orang yang akan makan siang.
“Aneh kenapa ???”
“Emm…orang-orang kok pada ngelihatin kita ya ???emangnya ada yang aneh sama kita ???” Ucap Rasya agak sedikit mendekat pada Tyo yang sedang asyik makan khas desa mereka.
“Ouw…paling mereka heran kok ada perempuan secantik dan semanis kayak kamu didesa ini ???” Jawab Tyo dengan sedikit menggoda.
“Tyo…aku serius. Aku enggak bercanda. Aku kayak dianggep seperti teroris tahu nggak.” Ucap Rasya sambil meneguk teh hangat. Tak berselang lama ada sesosok laki-laki renta, kira-kira seumuran dengan ayah Rasya mendekati mereka dan duduk tepat didepan mereka.
“Apa kabar nak Tyo ??” Sapa laki-laki renta itu.
“Baik Pak. Bagaimana hasil ladangnya Pak ???Lumayankan ???”
“Ya…lumayan nak Tyo. Syukur alhamdulillah bisa mencukupi perekonomian keluarga saya. Terimakasih ya Nak Tyo ???”
“Sama-sama pak. Oya…bapak sudah makan, mari makan sekalian sama kami, saya yang traktir dech pak.”
“Enggak usah nak. Saya baru selesai makan. Kesini mau membayar utang sama Bu Minah, terus kebetulan ketemu disini ya sekalian mampir.”
“Ouw…iya-iya.”
“Ngomong-ngomong ini siapa ya nak ???”
“Kenalin pak. Nama saya Rasya, saya cucunya Eyang Wijaya.” Ucap Rasya langsung nyelonong dengan suara lantang membuat orang yang berada diwarung mendengar perkataannya.
“OOO…”jawab semua orang serentak. Rasya kaget mendengar suara yang begitu menggelegar ditelinganya.
“Saya kira’in siapa neng.”Ucap salah satu ibu diwarung itu.
“Rasya ini dulu tinggal di Bali tapi mulai sekarang dia sudah tinggal dan menetap didesa ini bapak ibu sekalian.” Jawab Tyo dengan suara sopan santunnya yang mungkin bisa membuat orang tua yang memiliki anak perempuan ingin anaknya dipinang olehnya.
“OOO…”ucap mereka serentak lagi.
“Desa kita kemasukan orang kota. Cantik lagi.” Ucap seorang ibu yang lain.
“Terimakasih ibu.” Senyum Rasya menghiasi rona wajahnya yang putih bersih.
Sejak kejadian itu, Rasya merasa sangat dihargai dodesa itu. Beda saat dia berada di Bali. Komplek perumahannya sepi. Semua orang sibuk bekerja. Komplek itu seperti perumahan kosong tanpa berpenghuni. Bahkan, Rasya tak mengenal semua orang yang ada disana. Rasya hanya tau nama tetangganya saja, tak lebih dari itu. Jumlah yang dia tahupun hanya 5 orang. Rasa kebersamaan sangat kurang disana. Dan setiap saat Rasya merasa kesepian berada disana. Hanya ada Tasya yang menemainya.

*Bersambung*
 

Cerita Kita Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates