Malampun tiba disertai angin yang membara
begitu dingin. Membuat bulu kuduk Rasya berdiri karena kedinginan. Malam ini
yang dia tunggu. Dia memiliki sebuah kejutan untuk Tyo. Dia menyusuri jalan
setapak dengan senyuman yang tiada henti dan selalu memikirkan Tyo sepanjang
perjalanan. Hampir saja semua ingatannya yang indah musnah karena teringat ulah
Indah tadi siang.
“Malam sayang.” Sapa Rasya tiba-tiba saat
Tyo sedang menikmati rembulam malam itu.
“Ech…Rasya…ngapain malam-malam kesini ???”
“Lho…Eyang enggak cerita sama kamu ???”
“Cerita, tapi aku pikir kamu cuma bercanda.”
“Apakah dimatamu, aku ini masih kayak anak
kecil yang mainnya cuma bercanda muluk ??? He ???”
“Enggak gitu. Ya udah…ma’af….daripada kita
berantem, medingan langsung ngomong aja. Ada perlu apa seorang wanita cantik
nan manis ini mau datang kerumah Tyo Bagaskara malam-malam pula ???”
“Aku punya
berita yang bagus buat kamu. Bu Minah mau kerja direstoran kamu.”
“Serius ???”
“Iya…tapi,
sebenernya masih dalam pemikiran sich, beliau minta 3 hari buat mikir. Tapi
tenang aja, aku yakin 100% Bu Minah mau masakin buat restoran kamu.”
“Aku harap.
Makasih ya sayang. Baik banget dech.” Ucap Tyo sambil memeluk Rasya dalam
dinginnya malam.
‘OMG…..’ Gumam
Rasya dalam hati.
“Ech…jangan
lama-lama kalau ada yang lihat apa kata orang ???” Kata Rasya sambil melepas
pelukan dari Tyo. Sebenarnya dia tak mau lepas tapi karena dia tahu sopan
santun jadi terpaksa melakukannya.
“Ma’af-ma’af…terbawa
suasana.”
Otak Rasya
berputar. Dia ingin menanyakan langsung tentang perkataan Indah tadi siang
tentang pinangan. Tapi Rasya bingung. Dia tak berani mengatakannya karena kalau
jawabannya ‘IYA’ pasti akan terasa menyakitkan hatinya. Tapi, Rasya
mengumpulkan semua rasa keberaniannya supaya hatinya tak lagi bertanya-tanya
lagi.
“Emm…Tyo, aku
mau tanyak tapi harus dijawab ya…” Ucap Rasya dengan keraguan.
“Ya jelas lah
harus dijawab. Namanya juga pertanya’an.”
“Ih…kamu tu
ya…diajak serius dikiiiit aja enggak bisa.” Kata Rasya dengan tampang cemberut.
“Iya-iya.
Emangnya mau tanyak soal apa ???”
“Indah”
Seketika itu juga raut wajah Tyo berubah. Dia heran, kenapa Rasya menanyakan
soal Indah. Orang yang dia tidak suka.
“Tumben tanyak
soal Indah ??? Kenapa kangen ???”
“TYO…..!!!”
“Iya-iya ma’af.
Ini serius. Ok…aku dengerin.”
“Tadi siang,
aku ketemu sama dia. Terus dia bilang aku suruh jauh-jauh dari kamu. Katanya
kamu mau jadi pacarnya terus enggak berapa lama lagi, kamu mau nikah sama dia.”Ada
penekanan sedikit untuk kata nikah, karena dia tak sanggup untuk berkata itu.
“Ya ampun
Rasya. Jadi kamu cuma mau bilang itu ???” Jawab Tyo dengan tawa yang tak
terhentikan. Dia seperti geli mendengarkan ucapan Rasya.
“Kok malah
diketawa’in sich. Enggak ada yang lucu disini.”
“Ya abisnya
pertanyaan kamu konyol. Enggak masuk akal.”
“Ha ???”
“Semua yang
dibilang Indah itu cuma fiktif belaka. Pertama, aku lihat Indah aja udah mau
muntah. Kedua, aku deket sama dia karena terpaksa. Dan yang ketiga, aku sama
sekali enggak suka sama dia. Jadi gimana aku mau nikah sama orang yang enggak
aku sayang.”
“Tapi, biasanya
didesa itu kan kalau mau nikah enggak pakek rasa sayang, kalau lakinya tajir
ya…langsung main ambil aja.”
“Mungkin
sich…tapi buat aku enggak ada kata ‘dijodohin’ emangnya jaman Siti Nurbaya ???”
“Kenapa ???
Kamu takut kalau aku sampai dipaksa kawin sama Indah ???”
“Ha
…ech..eng….” Muka Rasya langsung memerah dan bingung seribu bahasa.
‘Mati….mau
jawab apa nich ???’
“Enggak-enggak. Cuma
bercanda aja sayang.” Timpal Tyo sambil tersenyum. Entah itu senyum bahagia
atau senyum menggoda Rasya yang sedang memerah.*Bersambung*