Gemericik air alam, hembusan angin pagi dan matahari yang enggan
menampakkan wajahnya. Mereka telah mewakili hati Rasya saat ini. Mungkin bagi
orang lain, mereka akan ada dihati sampai 1,2 atau 3 hari, tapi bagi Rasya
mereka akan ada dihati selamanya sampai ajal menjemputnya nanti.
Tepat pada tanggal 23 Mei 2009 pukul 02.00
WIT, orang yang paling Rasya sayang meninggalkannya berdua dengan ayah.
Tangisan tak dapat dia hentikan, begitu pula dengan ayahnya. Serangan jantung,
itu yang membuat beliau pergi. Rasya sempat menghibur ayah, tapi itu tak ada
gunanya.
Dalam hati Rasya menyesal, karena dia tak
bisa membuat beliau bahagia. Andai Rasya tahu dia akan pergi, pasti dia akan
buat beliau merasakan kesenangan yang tak terlupakan. Tapi itu tak mungkin,
didunia ini tak ada satupun manusia yan tahu kapan hari itu tiba
menghampirinya.
……………dua minggu kemudian………..
“Ayah……mau pergi kemana ???”Tanya Rasya pada
Ayahnya, yang begitu terlihat buru-buru dan gelisah.
“Emm…ayah ada urusan sebentar nak, nanti
kalau semua urusan sudah selesai, ayah pasti kembali.”
“Iya…hati-hati yah.”
Tanpa mengucapkan salam, ayah langsung pergi
meninggalkan Rasya sendiri dirumah. Sepi…sepi…dan sepi. Itu yang slalu dia
rasakan semenjak bundanya tak ada. Tapi semua perasaannya hilang saat……………
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikum salam. Tara……sendiri aja ??”Ucap
Rasya ketika membukakan pintu dan ternyata yang dilihat adalah seorang yang
slalu menemaninya.
“Ya gitu dech. Abis anak-anak nggak mau aku
ajak ke sini, katanya pada sibuk ngerjain tugas dari kampus.”
Dia sahabat satu-satunya yang dari dulu ada
buat Rasya. Namanya Tara, walau dia itu orangnya egois tapi dia orangnya juga
penyayang dan perhatian sama siapa aja.
“Pas banget kamu dateng kesini, aku
sendirian di rumah mau keluar males.”
“Ayah kamu kemana ??”
“Tadi pergi, kata beliau…ada urusan gitu,
nggak tahu apa’an.”
“Emm……haus nich.”
“Eh…iya bentar aku buatin minum dulu.”
…………….15 menit kemudian…………………
“Rasya……”panggil Tara sambil menampakkan
wajah yang ketakutan.
“Ada apa sich ??”tanya Rasya penasaran
padanya.
“Di luar ada petugas bank, katanya dia mau
menyita rumah ini.”
“Apa ???jangan bercanda dech.” Tanya Rasya
setengah kaget.
“Aduh, ngapain aku bercanda segala.
Mendingan kamu temuin dulu dech.”
Kedua kaki Rasya melangkah menuju ruang tamu
dengan perasaan bingung karena selama ini nggak ada masalah dengan pihak bank.
‘ada apa sich sebenernya ???’ gumamnya dalam
hati.
“Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu
???”Tanya Rasya dengan sedikit ketakutan.
“Apa benar anda bernama Rasya Desy Lavenusya
??”
“Iya, saya sendiri. Ini ada apa ya pak ???”
Tanya Rasya penasaran.
“Saya mohon sekarang juga anda meninggalkan
rumah ini, karena rumah ini sudah menjadi milik bank.”
“Apa ?? enggak mungkin pak, ini rumah ayah
saya, nggak mungkin tiba-tiba bisa beralih tangan ??”
“Perlu anda ketahui, sebenarnya perusahaan
ayah anda sudah gulung tikar dan ayah anda tidak bisa melunasi hutang-hutangnya
kepada bank, jadi terpaksa pihak bank harus menyita rumah ini beserta
perabotannya. Jadi saya mohon, tolong tinggalkan rumah ini mulai satu jam dari
sekarang. Permisi.” Jawab petugas bank dengan nada datar dan langsung
meninggalkan Rasya dengan raut wajah yang ingin merintih menagis.
Hati Rasya sakit,pikirannya bingung, tubuhnya pun terasa lemas. Rasya
tak bisa berkata apa-apa selain menerima kenyata’an yang ada.*To Be Continued*
0 komentar:
Posting Komentar