Pagi yang cerah
mengawali hariku. Aku meninggalkan singgasana untuk mencari ilmu yang selama
ini aku tekuni. Seperti biasa, setiap pagi aku selalu menjemput my best friend. Namanya Nayla. Dia
sahabatku sejak SMP.
“Assalamualaikum. Selamat pagi tante...??”Sapa dan
tanyaku beruntun.
“Wa’alaikum salam. Pagi......Naylanya udah berangkat,
katanya tadi ada urusan mendadak dikampus.”
“Oo...ya udah tante, Risa pamit dulu. Mari tante, Assalamualaikum.”Akhirku dengan sedikit kecewa.
“Iya...mari,Wa’alaikum salam.”
(Kebiasa’an..........kalau ada acara mendadak pasti
nggak pernah ngasih tau dulu.) gumanku dalam hati sambil mengendarai
transportasi pribadiku.
Saat tiba di kampus kebangga’anku.........aku bertemu dengan
Nayla di loker pribadi yang udah disediakan pihak kampus untuk para mahasiswa
maupun mahasiswi mereka.
“Pagi........!!” Ucap seorang wanita padaku.
“Hei......pagi. Darimana aja sich, berangkat nggak
bilang-bilang ??kebiasa’an. Harus berapa kali sich aku bilang tentang ini ??”
Balasku sambil mengemasi buku-buku yang aku perlukan hari ini.
“Sorry......Tadi ada tugas yang harus dikumpulin pagi
ini juga. Eh...Lihat Ray nggak ??”
“Tadi sich, aku lihat di perpus, tapi nggak tau kalau
sekarang. Coba kamu cek dulu aja. Emangnya ada apa ??” Tanyaku pada Nay.
“Ini ada tugas kelompok dan harus selesai minggu ini
juga. Tugasnya banyak lagi.”
“Itu emang nasib kamu sayang......”Jawabku sambil melontarkan
tawa kecil pada sahabatku satu ini.
“Kalau bilang soal nasib,
jangan sama aku. Nggak ada abisnya. Sial muluk tiap hari, keberuntunganku
sebulan bisa di itung.” Ucap Nayla padaku.
“He.he.he....., ya udah aku bantuin cari Ray dech.
Biar keberuntunganmu nambah atu.” Ledekku pada Nayla.
“Ye......mau nolongin apa mau ngeledek nich ??”Jawab
Nay sedikit sinis.
“Iya-iya...maaf dech...mau nggak nich ??”
“Ya maulah...tapi kamu
yang cek ke perpus ya...ntar kalau udah ketemu Ray sms aku, soalnya aku ada
kelas bentar lagi.”
“Siipp...”
“Thanks.......... Bye.......J J J”Ucap Nayla sambil
meningalkanku sendiri lagi, sebelum ku membalas kepergiannya.
# # #
Saat ku menyusuri jalan lorong tengah kampus, ku lihat
Ray sedang menyendiri disalah satu kursi yang
udah ada sejak dulu sambil membaca secarik kertas
putih.
Ray adalah temenku sama Nay dari kita SMP. Walaupun Ray masuk dalam daftar
sahabatku yang paling belakang, tapi dia adalah pengobat rasa sedih dan amarah
kita. Dia satu-satunya cowok yang jadi sahabat kita. So......dia sangat berarti
bagi aku sama Nayla. Tanpa berfikir panjang, aku menghampirinya.
“Hai...Ray.”Sapaku padanya
“Oh...hai Sa.” Jawab Ray seperti
kaget akan sapaku.
“Kamu kenapa ?? Koq kelihatan sedih gitu ??”tanyaku
penasaran padanya.
“Nggak pa-pa kok. Ada apa ??”
“O...ya, gini,
tadi Nayla nyari’in kamu
buat ngerja’in tugas kelompok.”
“Oke. Aku nanti temui Nayla.”Jawab Ray dengan nada yag
tidak biasa dia gunakan.
...........sejenak aku terdiam.........
“Beneran kamu nggak pa-pa ??”
“Iya...aku nggak pa-pa. Udahlah jangan khawatir, aku kan bukan anak kecil
lagi yang setiap saat dan setiap waktu harus diperhatikan dan dikhawatirin.”
Jelas Ray panjang lebar padaku.
“Iya-iya......cerewet banget
jadi cowok.”
“Aku cerewet karena ada maksud dan tujuan neng.”
“Iya kang mas. Tapi nanti sore jangan lupa ke rumahku. Awas kalau sampek
nggak dateng.” Ucapku sambil mengikuti senyumku sendiri.
“Iya.....nggak usah di ingetin aku juga udah hafal kok.”
“Ya baguslah kalau hafal diluar kepala,
duluan ya...!!” Anggukan kepalanya mengakhiri pembicara’anku padanya.
Tapi.......entah mengapa, tiba-tiba
hatiku merasakan rasa yang aneh pada Ray. Nggak biasa dia kayak gini.
(Atau......dia punya masalah ?? tapi Impossible.
Ray bukan tipe orang yang suka menyembunyikan masalah. Trus...kalau enggak punyak
masalah, dia kenapa donk ??) hatiku bertanya-tanya. Dan sempat membuatku
bingung.
# # #
“Risa.......!!!”Panggil Nayla dari jarak 3 meter dariku.
“Hai, udah ketemu sama Ray belom ??”Tanyaku padanya.
“Udah. Tugasnya juga udah aku bagi’in sama dia, tapi dia kelihatan aneh
gitu.”
“Aneh gimana ???”
“Ya......dia itu beda banget dengan Ray yang kita
kenal. Dia lebih pendiem. Biasanya kalau dia aku kasih tugas banyak kayak gini,
dia itu selalu ngomel, tapi kali ini enggak.”
(Kenapa yang dirasa’in
Nay persis dengan apa yang aku rasakan saat ketemu sama Ray tadi. Atau emang
Ray punya masalah??) gumanku dalam pikiran, sampai-sampai aku lupa kalau Nay
sedang sama aku.
“Sa...Risa......” Ucap Nay sambil melambaikan tangannya di mukaku.
“Eh...sory...ngelamun.”
“Hayo...ngelamunin siapa ?? cowok yach...??ngaku aja
dech...”
“Enggak......sok tau banget.”
“Ya udah dech kalau nggak mau cerita, trus soal Ray
ini gimana ???”
“Ya...mungkin dia lagi ada something.”
“May be.....gimana kalau kita langsung tanyak sama dia
??”
“Eh.....jangan...kamu udah gila. Walaupun kita sahabat
tapi nggak semua masalah harus di ikut campur tangan.”
“Iya juga sich...”
“gini aja, nanti sore kan kita kumpul dirumah,
nah...kita tanyak pelan-pelan sama dia, jangan langsung nyosor aja, gimana ???”
“Tapi...nanti sore aku nggak bisa, aku ada urusan sama mama, lain kali aja
ya....”
“Trus soal Ray ?? masak
aku sendiri yang nanganin ??”
“Ya iyalah, siapa lagi ??Udahlah nggak pa-pa, lagian belum tentu duga’an kita bener kan ???
ya......kalau emang dia punya masalah dan dia nggak mau kasih tau
ya udah nggak usah dipaksa, gampang kan ??”
“Ya udah dech.”Jawabku
singkat padat dan sedikit ada keraguan.
# # #
Pagi pun berganti sore, dan jam menunjukkan pukul
16.00 WIB.
Ting...Tong... Ting...Tong..., suara bel rumahku
berbunyi, akupun beranjak dari ruang santai menuju ruang tamu untuk membukakan
tamu pertamaku hari ini.
“Hai .....”Sapa Ray padaku.
“Hai.....kira’in nggak dateng.”
“Sepi banget ?? Nay mana ??”Tanya Ray.
“O...dia hari ini nggak dateng, katanya sich ada
urusan sama mamanya gitu.”
“OooO...”
“Eh...bentar ya...aku buatin minum dulu. Kamu langsung kebelakang aja.”
“Ke belakang
mana ???.”
“Ya ketaman
Ray, biasanya kita juga kumpul disana kan ???masih muda kok lupa.”
“Iya-ya...sory lupa.”
(ANEH ???)
..........beberapa menit kemudian...........
Aku melangkahkan kakiku menuju taman belakang yang
sedari tadi Ray menungguku disana. Tapi saat aku hampir mendekatinya, aku
melihat dia sedang membaca secarik kertas yang sama dengan yang aku liat tadi
pagi.
“Serius banget bacanya ??surat apa’an sich ??tadi
waktu dikampus aku sempet ngeliat kamu baca surat itu, eh...sekarang dibaca
lagi.Kayaknya berarti banget.”Ucapku sambil menyuguhkan segelas minuman dan sepiring makanan ringan.
“Emm...iya...surat ini emang berarti banget buat aku.”
Jawabnya dengan raut wajah yang tak biasa dia tunjukkan padaku maupun Nayla.
“Boleh tau nggak ?? Ya...kalau nggak mau ya udah nggak pa-pa.”
“Aku kesini......mau............” Ucapnya ragu padaku. Seakan ada yang
mendorongnya untuk tidak bicara.
“Mau apa ??”Jawabku
seakan bingung dan penasaran.”
“Ak...aku...mau ngomong
ten...tentang surat ini.”Jawabnya tertatih-tatih padaku.
“Ya udah ngomong aja. Kitakan sahabat.”Rasa penasaranku semakin memuncak.
“Kamu baca sendiri aja dech.”Pintanya sambil
meyodorkan secarik kertas putih kepadaku. Tanpa berfikir panjang dan tanpa rasa
ragu aku membaca isi dari kertas putih itu.
Dan setelah ku baca surat itu, hatiku tersentak kaget,
nafas seakan pergi dari ragaku dan sempat aku berfikir ‘’ini serius ???’’
“Kamu.........................”ucapku dengan raut
wajah tak percaya.
“Iya...aku sendiri nggak percaya,tapi itu kenyata’an Ris. Aku harus hadapi semua resikonya walaupun sakit dan nyawa taruhannya.”
“Nggak......nggak mungkin. Ini pasti salah satu
kejailan kamu kan, aku nggak percaya.”
“Ngapain aku bercanda dengan kematianku sendiri ??”
“Tapi...................”
“Udahlah......semua itu udah terjadi dan aku juga
minta ma’af, karena aku baru kasih tau kamu sekarang.”
“Nayla ....... ??Dia sayang banget sama kamu Ray.”
“Maka dari itu, aku minta jangan kasih tau dia, aku
nggak mau dia sedih.”
“Tapi, cepat atau lambat dia bakalan tau dari sikap
kamu yang berubah 180o.”
“Tenang......minggu ini aku mau berangkat ke Amerika
buat operasi. Jadi nggak usah khawatir kalau Nayla bakal curiga. Paling cuma
sebulan aku disana. Kamu bisa bantu aku kan ??”
“Tapi............emm....oke, aku bantu.”Kataku dengan
berat hati.
“Thanks.....”hanya seyumku yang
bisa ku balas.To be Continued...
0 komentar:
Posting Komentar