…………………3 jam kemudian…………….
“Assalamualaikum. Kulo nuwun……”
“Wa’alaikum salam. Tyo, ono po le ???”
“Eyang, Rasyanya ada ???”
“Ada. Udah ketemu to sama Rasya ???”
“Udah Eyang tadi pagi waktu Rasya
jalan-jalan.”
“Pantes pulang dari jalan-jalan dia senyam-senyum
sendiri, lawong ketemu orang ganteng.”
“Eyang………….apa-apa’an sich.” Ucapku dari
kejahuan.
“Eyang……Tyo minta izin buat ngajak Rasya
maen kerumah.”
“Ooo……yo wes gak po-po. Tapi ngati-ngati
ya.”
“Iya eyang ku tercinta. Pergi dulu yang.”
Ucap Rasya pada eyang sambil mengecup pipi eyang yang seperti kulit bayi lembut
tanpa dosa.
…………….dalam perjalanan……………….
“Kamu ada urusan apa kerumah eyang ???”
“Nggak ada urusan apa-apa. Mulai sekarang
aku tinggal di rumah eyang.”
“Lho…memangnya rumah kamu di Bali kenapa
???”
“Enggak kenapa-kenapa koq, ya semenjak bunda
meninggal semua keluargaku hancur.” Setelah mendengar kalimat yang Rasya
ucapkan, Tyo mengerem dengan tiba-tiba sampai jidad Rasya kebentur punggung
Tyo.
“Aduh……kenapa sich ?? jidadku sakit tau.”
“Iya…ma’af. Kata-kata kamu yang bikin aku
kaget. Maksudnya hancur itu gimana ???”
“Nanti aja ceritanya kalau udah sampek
rumah. Nanti tak cerita’in disini bisa-bisa aku kelempar sampek sawah.”
“Yo wes. Ma’af ya…” Ucap Tyo sambil tertawa
kecil.
“Iya. Udah cepetan.” Ucap Rasya sambil
memegangi jidadnya yang baru terbentur.
D D D
Mereka akhirnya sampai ditempat tujuan,
yaitu rumah Tyo. Rasya sempat tercengang kaget meliat perubahan dirumah Tyo.
“Ini beneran rumah kamu ???”
“Nggeh Mbak yu. Masak lupa sama jalan
kerumahku ???”
“Emm…bukannya lupa, tapi rumahnya.”
“Mentang-mentang situ dari kota.”
“Eh…bukan itu maksud aku. Tapi kamu dapet
uang dari mana kok bisa merenovasi rumah sebagus ini ???”Tanya Rasya sambil
menyusuri halaman rumah Tyo yang luas dan indah bagaikan halaman istana.
“Oiya…aku belum cerita ya. Sekarang ini aku
udah jadi arsitek, mimpiku dari kecil dulu.”
“Oya … ??? Wah…bagus donk. Selamat ya …. !!”
“Terimakasih. Emm…ya udah, kamu duduk disini
dulu, tak ambilne minum, bentar ya…” Anggukan yang Rasya balas sambil melihat
desain rumah Tyo yang begitu indah. Rumahnya di Denpasar aja kalah sama ini.
…………………15 menit kemudian………………….
“Monggo tjah ayu….”
“Makasih……rumahmu kok sepi ??? orang-orang
pada kemana ???” Tanya Rasya sambil meneguk minuman segar.
“Ibu sama bapak lagi keluar ngurus panen,
adikku Tia lagi sekolah. Ya jadi sepi dech.”
“Emm…tinggal disini nyaman ya…jauh dari
keramaian.”
“Emang. Makanya walaupun aku dapat tugas
diluar kota, aku harus menyempatkan untuk dateng kerumah. Ya…buat refresing
dikit-dikitlah.”
Rasya
tersenyum kecil pada Tyo.
“Eh…tadi kamu mau ceritakan soal keluarga
kamu ??”
“Eh…iya sampai lupa. Jadi gini……………” Jelas
Rasya panjang lebar.
“Ouw…jadi gitu ceritanya. Bagus dech.”
“Bagus ??Apanya yang bagus ?? Temen susah
kok dibilang bagus ?? Aneh.” Tanya Rasya bingung dengan ucapan Tyo dengan wajah
sedikit memerah.
“Ha…eh…enggak kok. Maksud aku pilihan kamu
dateng kesini itu bagus.Disinikan suasananya nyaman. Ya nggak ???”
“Ouw…iya sich…aku suka. Minggu ini sibuk
nggak, aku mau jalan-jalan, …sekalian mengenal komplek desa yang kecil nan
indah ini. Soalnyakan aku menetap disini, jadi kalau kemana-mana biar nggak
nyasar.” Jelas Rasya panjang lebar.
“Emm…mungkin bisa, tapi kalau nanti aku ada
perubahan jadwal jangan marah ya…??”
“Iya…masak
temen mau nyari nafkah aku larang juga. Enggak etis banget.” Jawabnya sambil melontarkan
senyum indah. Tyo Terpana akan senyumanya yang diiringi wajah Rasya yang cantik
bak bidadari.
*To be Continued*
*To be Continued*
0 komentar:
Posting Komentar