“Ini nggak mungkin kan Ra ??” Tanya Rasya
pada Tara dengan meneteskan air mata.
“Sya…” Ucap Tara dengan rasa prihatin.
“Ini nggak mungkin. Ini nggak mungkin. Jadi
ayah tadi pergi untuk …… ???”
“Ya udah, sekarang kita beresin
barang-barang kamu, untuk sementara kamu tinggal dirumahku. Nanti kita cari
jalan keluar.”
Merekapun pergi meninggalkan ruang tamu dan
beranjak pergi ke kamar Rasya untuk membereskan
barang-barang Rasya yang masih berada dikamar dengan posisi yang sangat rapi
bak kamar istana yang begitu megah.
…………………satu jam kemudian…………………..
“Terima kasih anda telah mendengarkan
permohonan kami. Sebelumnya kami minta maaf.” Ucap pihak bank kepada Tara yang
sedang memegangi Rasya disampinnya.
“Sama-sama pak.” Ucap Tara. Mereka pergi
meninggalkan rumah yang sudah 20 tahun Rasya tempati bersama Bunda dan Ayahnya
dalam keadaan suka maupun duka.
D D D
“Rasya…”
“Apa salahku ???sampai-sampai Tuhan
menghukumku seperti ini ?”
“Jangan anggap ini sebagai hukuman atau
azab, jadikan ini musibah dan pelajaran untuk hidupmu dimasa yang akan datang
nanti.” Nasehat Tara.
“Iya…kamu bener. Tara…aku mau pergi ke
Yogya.”
“Ke Yogya ??? sama eyang ??” Tanya Tara
kaget karena belum siap untuk berpisah dengan Rasya yang sudah bertahun-tahun
bersamanya.
“Iya…daripada disini aku tambah kesiksa.
Ayah nggak tau sekarang kemana. Aku telfon nggak aktif terus. Aku mau nenangin
diri dulu untuk beberapa tahun atau mungkin slamuanya aku tinggal disana. Nggak
pa-pa kan ??” Tanya Rasya sambil meneteskan air mata karena tak kuat memikirkan
penderitaannya sekaranmg ini.
“Ya kalau itu yang terbaik buat kamu, aku
nggak pa-pa koq. Tapi nanti jangan lupa sama aku. Ok !!”
“Ya enggaklah. Masak aku bakal lupa sama
sahabatku tercinta.“ Ucap Rasya sambil mengeluarkan senyum kecil yang bahagia.
D D D
Ke esokan harinya……………………
“Hati-hati ya. Nanti kalau udah sampek Yogya
telfon aku.” Ucap Tara sambil sedikit meneteskan air matanya.
“Iya. Itu udah pasti. Udah donk jangan
nangis. Kita kan masih bisa ketemu lagi.” Ucap dan hibur Rasya pada wanita yang
cengeng ini.
“Ya udah, berangkat sana nanti telat.”
“Jaga diri baik-baik ya…”
“Kamu juga…Bye…”
“Bye…see you later.”
Rasyapun membalikkan badan dan berjalan
lurus kearah yang diatuju.Walau Rasya sempat meneteskan air mata, tapi air mata
itu bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagian.
*Bersambung*
*Bersambung*
0 komentar:
Posting Komentar