Perjalanan jauh menuju Yogya sangat melelahkan bagi Rasya. Sepanjang
perjalanan dia selalu teringat oleh Ayahnya. Dia ingin sekali bertemu dengan
Ayahnya. Dia teringat saat beliau memanggilnya dengan sebutan sayang, anak Ayah
yang paling cantik, anak Ayah yang paling manja. Suara seorang Ayah sangat ia
harapkan. Apalagi saat-saat seperti ini. Dia ingin berada disamping Ayah dan
mendengar keluh kesah dan berjuang bersama dalam menghadapi semua ini. Tapi
impiannya sangat bertolak belakang. Sekarang, Ayahnya hilang dan entah pergi
kemana.
“Assalamualaikum nek,” Salam Rasya pada
sebuah rumah sederhana tapi membuat hati Rasya sedikit lebih tenang.
“Wa’alaikum salam. Lho…??? Cucu Eyang datang
ke sini kok nggak bilang-bilang to ??? Oalah nduk-nduk, kalau tau gini Enyang
kan bisa suruh orang buat jemput to nduk.”
“Nggak apa-apa Eyang…kan Rasya juga udah
gede.”
“Yo wis…masuk-masuk. Mbok…bawa’in
barang-barang kedalam ya.”
“Nggeh Budhe.”Sapa simbok dari belakang.
Rasya memasuki rumah eyang yang sudah 2
tahun lebih aku tak berkunjung kesini.
“Ada apa kok cucu eyang dateng kesini ???”
“Gini Eyang…………………………….” Rasya menceritakan
semua yang telah dia alami akhir-akhir ini di Denpasar.
“Oalah…nduk-nduk....bapak kamu itu gimana
to….baru saja ibumu meninggal, sekarang sudah bikin masalah lagi dan sekarang
kabur.”
“Udahlah Eyang, kalau Ayah masih sayang sama
keluarganya pasti beliau nelfon atau ngabarin keluarganya.”
“Ya wes lah……bapakmu ora usah dipikir. Eyang
aja yang mikirin, mendingan kamu istirahat aja. Kamarnya tau to…???”
“Iya Eyang, Rasya masih inget kok. Ya udah
Rasya istirahat dulu.”
“Iyo nduk.” Akhir kata Eyang.
D D D
Keesokan harinya, tepat pukul 06.00 WIB, Rasya
berjalan-jalan menyusuri daerah tempat Eyangnya tinggal. Sudah lama dia tak
berkunjung dan berjalan-jalan di daerah sini. Walaupun tempatnya kampoeng, tapi
keadaan lingkungan disini masih alami dan asri. Oleh karena itu,mengapa Rasya
lebih memilih tinggal disini.Denga suasana seperti mungkin akan membantunya.
“Rasya……” Seorang pemuda memanggilnya dari
arah berlawanan sambil mengendarai sepeda ontelnya. Dan dia berhenti di hadapan
Rasya denag raut wajah yang bahagia.
“Ma’af…anda siapa ???” Tanya Rasya bingung.
“Tapi ini betul Rasya kan ???”
“Iya saya Rasya, anda siapa ???” Tanya Rasya
sekali lagi.
“Masak lupa sama temen sendiri.”
“Emm……”ucap rasya sambil mengingat kembali.
‘Sepertinya aku udah nggak asing lagi sama
wajahnya, tapi siapa ya ???’gumamnya dalam hati.
“Ya ampun Sya…belum ingat juga ??” Gelengan
kepala Rasya menjawab pertanya’an pemuda ini.
“Aku Tyo. Inget kan ???”
“Ya ampun Tyo. Ma’af aku bener-bener lupa.
Gimana kabarnya ??”
“Apik. Kowe dhewe piye ???”
“Sama aku baik-baik aja. Sekarang tambah
ganteng.”
“Bisa aja. Situ juga tambah cantik.”
“Makasih. Boleh nggak aku maen kerumahmu ??
udah lama nich nggak maen.”
“Boleh aja, tapi jangan sekarang ya…aku ada
urusan, nanti kalau aku udah pulang,aku tak kerumah eyang, kamu tunggu dirumah
ae.”
“Oke…sekarang jadi orang sibuk nich ?”
“Alah……enggak juga. Yo wes ya…ntar tak
jemput.”
“Iya.”
‘OMG……Tyo sekarang ganteng banget, sama
orang Bali aja kalah.’ Gumam Rasya dalam hati dengan senyum yang menghiasi
bibirnya..
*Bersambung*
0 komentar:
Posting Komentar