Mereka Akhirnya sampai ditempat tujuan dan memesan makanan yang dibilang
Tyo itu enak. Sesampai makanan datang.
“Hmmm….yummy !!”
“Enak kan ??? Apa aku bilang.”
“Iya, bener kata kamu. Belum pernah aku
rasa’in masakan seenak ini. Eh…kenapa enggak kamu jual aja makanan ini restoran
kamu ??? Jadikan Bu Minah bisa bertambah penghasilan.”
“Udah. Tapi beliau enggak mau. Katanya takut
kalau enggak laku. Padahal udah aku bujuk berbagai cara, tapi tetep aja enggak
mau.”
“Emm…gitu. Gimana kalau aku yang bujuk
beliau ???”
“Aku aja yang udah dikenal sama beliau aja
belum bisa nyangkut, apalagi kamu yang baru disini ???”
“Jangan meremehkan orang lain. Lihat aja
nanti.”
“Enggak pakek jampi-jampi kan ???” Goda Tyo.
“Ya enggak lah.”Senyum terurai lagi dalam
wajah Rasya dan membuat Tyo tidak ingin melupakan senyumnya yang indah itu.
Setelah beberapa menit kemudian mereka
makan. Ternyata, tanpa mereka sadari, banyak orang yang berbicara tentang
mereka. Mereka tampak heran memandang mereka berdua, terutama Rasya, yang baru
didesa tersebut.
“Yo..kamu merasa aneh nggak ???” Tanya Rasya
sambil memandang sekelilingnya yang penuh sesak orang yang akan makan siang.
“Aneh kenapa ???”
“Emm…orang-orang kok pada ngelihatin kita ya
???emangnya ada yang aneh sama kita ???” Ucap Rasya agak sedikit mendekat pada
Tyo yang sedang asyik makan khas desa mereka.
“Ouw…paling mereka heran kok ada perempuan
secantik dan semanis kayak kamu didesa ini ???” Jawab Tyo dengan sedikit
menggoda.
“Tyo…aku serius. Aku enggak bercanda. Aku
kayak dianggep seperti teroris tahu nggak.” Ucap Rasya sambil meneguk teh
hangat. Tak berselang lama ada sesosok laki-laki renta, kira-kira seumuran
dengan ayah Rasya mendekati mereka dan duduk tepat didepan mereka.
“Apa kabar nak Tyo ??” Sapa laki-laki renta
itu.
“Baik Pak. Bagaimana hasil ladangnya Pak
???Lumayankan ???”
“Ya…lumayan nak Tyo. Syukur alhamdulillah
bisa mencukupi perekonomian keluarga saya. Terimakasih ya Nak Tyo ???”
“Sama-sama pak. Oya…bapak sudah makan, mari
makan sekalian sama kami, saya yang traktir dech pak.”
“Enggak usah nak. Saya baru selesai makan.
Kesini mau membayar utang sama Bu Minah, terus kebetulan ketemu disini ya
sekalian mampir.”
“Ouw…iya-iya.”
“Ngomong-ngomong ini siapa ya nak ???”
“Kenalin pak. Nama saya Rasya, saya cucunya
Eyang Wijaya.” Ucap Rasya langsung nyelonong dengan suara lantang membuat orang
yang berada diwarung mendengar perkataannya.
“OOO…”jawab semua
orang serentak. Rasya kaget mendengar suara yang begitu menggelegar
ditelinganya.
“Saya kira’in siapa neng.”Ucap salah satu
ibu diwarung itu.
“Rasya ini dulu tinggal di Bali tapi mulai
sekarang dia sudah tinggal dan menetap didesa ini bapak ibu sekalian.” Jawab
Tyo dengan suara sopan santunnya yang mungkin bisa membuat orang tua yang
memiliki anak perempuan ingin anaknya dipinang olehnya.
“OOO…”ucap mereka serentak lagi.
“Desa kita kemasukan orang kota. Cantik
lagi.” Ucap seorang ibu yang lain.
“Terimakasih ibu.” Senyum Rasya menghiasi
rona wajahnya yang putih bersih.
Sejak kejadian itu, Rasya merasa sangat
dihargai dodesa itu. Beda saat dia berada di Bali. Komplek perumahannya sepi.
Semua orang sibuk bekerja. Komplek itu seperti perumahan kosong tanpa
berpenghuni. Bahkan, Rasya tak mengenal semua orang yang ada disana. Rasya
hanya tau nama tetangganya saja, tak lebih dari itu. Jumlah yang dia tahupun
hanya 5 orang. Rasa kebersamaan sangat kurang disana. Dan setiap saat Rasya
merasa kesepian berada disana. Hanya ada Tasya yang menemainya.
*Bersambung*
0 komentar:
Posting Komentar