Jumat, 08 Februari 2013

0 Tentang Kita Part 8


Mereka Akhirnya sampai ditempat tujuan dan memesan makanan yang dibilang Tyo itu enak. Sesampai makanan datang.
“Hmmm….yummy !!”
“Enak kan ??? Apa aku bilang.”
“Iya, bener kata kamu. Belum pernah aku rasa’in masakan seenak ini. Eh…kenapa enggak kamu jual aja makanan ini restoran kamu ??? Jadikan Bu Minah bisa bertambah penghasilan.”
“Udah. Tapi beliau enggak mau. Katanya takut kalau enggak laku. Padahal udah aku bujuk berbagai cara, tapi tetep aja enggak mau.”
“Emm…gitu. Gimana kalau aku yang bujuk beliau ???”
“Aku aja yang udah dikenal sama beliau aja belum bisa nyangkut, apalagi kamu yang baru disini ???”
“Jangan meremehkan orang lain. Lihat aja nanti.”
“Enggak pakek jampi-jampi kan ???” Goda Tyo.
“Ya enggak lah.”Senyum terurai lagi dalam wajah Rasya dan membuat Tyo tidak ingin melupakan senyumnya yang indah itu.
Setelah beberapa menit kemudian mereka makan. Ternyata, tanpa mereka sadari, banyak orang yang berbicara tentang mereka. Mereka tampak heran memandang mereka berdua, terutama Rasya, yang baru didesa tersebut.
“Yo..kamu merasa aneh nggak ???” Tanya Rasya sambil memandang sekelilingnya yang penuh sesak orang yang akan makan siang.
“Aneh kenapa ???”
“Emm…orang-orang kok pada ngelihatin kita ya ???emangnya ada yang aneh sama kita ???” Ucap Rasya agak sedikit mendekat pada Tyo yang sedang asyik makan khas desa mereka.
“Ouw…paling mereka heran kok ada perempuan secantik dan semanis kayak kamu didesa ini ???” Jawab Tyo dengan sedikit menggoda.
“Tyo…aku serius. Aku enggak bercanda. Aku kayak dianggep seperti teroris tahu nggak.” Ucap Rasya sambil meneguk teh hangat. Tak berselang lama ada sesosok laki-laki renta, kira-kira seumuran dengan ayah Rasya mendekati mereka dan duduk tepat didepan mereka.
“Apa kabar nak Tyo ??” Sapa laki-laki renta itu.
“Baik Pak. Bagaimana hasil ladangnya Pak ???Lumayankan ???”
“Ya…lumayan nak Tyo. Syukur alhamdulillah bisa mencukupi perekonomian keluarga saya. Terimakasih ya Nak Tyo ???”
“Sama-sama pak. Oya…bapak sudah makan, mari makan sekalian sama kami, saya yang traktir dech pak.”
“Enggak usah nak. Saya baru selesai makan. Kesini mau membayar utang sama Bu Minah, terus kebetulan ketemu disini ya sekalian mampir.”
“Ouw…iya-iya.”
“Ngomong-ngomong ini siapa ya nak ???”
“Kenalin pak. Nama saya Rasya, saya cucunya Eyang Wijaya.” Ucap Rasya langsung nyelonong dengan suara lantang membuat orang yang berada diwarung mendengar perkataannya.
“OOO…”jawab semua orang serentak. Rasya kaget mendengar suara yang begitu menggelegar ditelinganya.
“Saya kira’in siapa neng.”Ucap salah satu ibu diwarung itu.
“Rasya ini dulu tinggal di Bali tapi mulai sekarang dia sudah tinggal dan menetap didesa ini bapak ibu sekalian.” Jawab Tyo dengan suara sopan santunnya yang mungkin bisa membuat orang tua yang memiliki anak perempuan ingin anaknya dipinang olehnya.
“OOO…”ucap mereka serentak lagi.
“Desa kita kemasukan orang kota. Cantik lagi.” Ucap seorang ibu yang lain.
“Terimakasih ibu.” Senyum Rasya menghiasi rona wajahnya yang putih bersih.
Sejak kejadian itu, Rasya merasa sangat dihargai dodesa itu. Beda saat dia berada di Bali. Komplek perumahannya sepi. Semua orang sibuk bekerja. Komplek itu seperti perumahan kosong tanpa berpenghuni. Bahkan, Rasya tak mengenal semua orang yang ada disana. Rasya hanya tau nama tetangganya saja, tak lebih dari itu. Jumlah yang dia tahupun hanya 5 orang. Rasa kebersamaan sangat kurang disana. Dan setiap saat Rasya merasa kesepian berada disana. Hanya ada Tasya yang menemainya.

*Bersambung*

0 komentar:

Posting Komentar

 

Cerita Kita Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates