Jumat, 01 Februari 2013

0 Tentang Kita Part 7


Kaki kecil Rasya berjalan setapak demi setapak menyusuri jalan kecil atau batas bidang sawah yang satu dengan yang lainnya.
“Mas Tyo…!!!!Mas Tyo tunggu … !!!” Teriak seorang perempuan dari kejahuan. Dia masih terlihat muda. Mungkin seumuran dengan Rasya.
“Siapa dia ???” Tanya Rasya yang penasaran.
“Dia Indah. Gadis kampung sini. Dari dulu dia udah naksir berat sama aku. Padahal udah aku tolak, tapi masih ngotot.”
“Kenapa enggak dicuekin aja ???”
“Enggak segampang itu Sya. Ayahnya kepala desa kampung ini. Terus, aku disini dikenal pemuda yang santun dan menghargai wanita. Kalau sampai aku ngapa-ngapain Indah sampai dia nangis, yang malu kedua Orang Tuaku.”
“Ribet juga tinggal didesa. Eh..dia kesini tuch.”
“Mas Tyo…mau kemana ??? Dek Indah ikut ya mas ???” Tanya Indah sambil melirik Rasya dengan sinis.
“Emm…aduh…maaf dek Indah, bukannya nolak, tapi sekarang aku masih ada tamu dari Eyang Wijaya.”
“Emangnya dia siapa to mas ???”Tanya Indah dengan begitu penasaran, mungkin dia takut kalau Mas Tyonya direbut sama perempuan lain.
“Dia cucunya Eyang. Sejak 3 hari yang lalu dia udah tinggal disini dan rencananya mau menetap disini.”
“Baru rencanakan mas ??? Enggak serius ???”
“Enggak. Aku udah mutusin kalau aku mau menetap disini selamanya. Kenapa ??? keberatan ???” Kata Rasya memotong  dengan dibubuhi sedikit menyindir.
“Enggak kok. Ngapain aku keberatan ??? Enggak ada kerja’an aja. Mendingan mikirin mas tyo yang lebih dari segalanya daripada kamu. Asal jangan ngerebut Mas Tyoku aja.” Ucap Indah dengan mengacungkan jari telunjuknya pada Rasya.
“Ech…biasa aja donk mbak. Siapa juga yang mau ngambil Mas Tyomu ini ???Enggak sudi.” Emosinya mulai naik.
“Ech…apa-apain sich ini ?? Udah jangan pada berantem malu dilihatin orang kampung. Kalian ini kan perempuan, masak pakek berantem segala ???”
“Dia dulu yang mulai Mas…”Kata Indah dengan sedikit memelas. Mungkin untuk adegan memelas, Indah adalah jagonya. Semua akan luluh dengan tampang melasnya yang begitu memikat.
“Disini semuanya salah. OK !!!”
“Bodo” Ujar Rasya sambil meninggalkan Tyo dan Indah berdua ditengah sawah dengan angin semilir.
“Sya…Rasya…”Kata Tyo sambil berlalu meningglkan Indah.
“Mas Tyo….Mas….Tunggu….kok aku ditinggalin sich … Mas...Mas tyo ???Iih…….” Kata Indah dengan raut wajah yang cemberut dankesal pada Rasya. Karena gara-gara dia Tyo berani ninggalin dia sendiri di engah sawah.

D                 D                 D

“Dia pikir aku apa’an. Cewek penggoda gitu ???Dasar cewek kampung nggak tahu sopan santun. Ngakunya cewek kampung, nyatanya kelakuannya kayak binatang. Emangnya dia siapa bisa nglrang-nglrang aku deket sama Tyo ??? Pacarnya aja bukan, bahkan sama Tyo aja dia enggak dianggep sama sekali. DASAR CEWEK KAMPUNG !!!”
“Rasya……….”
“Ngapain nyusul aku segala ??? Urusin tuch dek Indahmu itu. Dia abis makan cabe ya…pedes banget omongannya.”
“Sya…dia orangnya emang begitu. Enggak bisa diajak omong lembut sama semua cewek.”
“Apa ??? Sama semua cewek ??? Berarti semua cewek yang ada di kampung ini udah pernah kena semprot cabenya dong ???”
“Ya…kurang lebih seperti itu.” Senyumku menyambut kalimat Tyo.
“Emangnya kenapa ??? Gara-gara ngerebut kamu dari tangannya ??? Iya ???”
“Ya…kurang lebih seperti itu.”
“Sebegitu tampannya ya sesosok Tyo Bagaskara disini ???”
“Ya…kurang lebih seperti itu.
“Dari tadi jawabannya itu muluk. Tapi tunggu,kayaknya semua perempuan yang  ada disini perlu pengobatan mata.”
“Ech…enak aja. Kamu pikir aku pemandangan  yang kurang bagus ???”
“Kamu itu enggak ada bagus-bagusnya sayang. Bagus dari mana ???”
“Ech…jangan salah. Aku ini laki-laki paling tajir dan paling memikat semua perempuan yang ada desa ini. Tapi…nggak ada yang cocok. Jadi ya…aku cuekin semua, kecuali Indah yang cerewetnya minta ampun.”
“Dasar cowok. Sukanya milih-milih. Dikasih bagus masih minta yang lebih.”
“Siapa yang milih-milih ??? Aku enggak milih-milih. Hatiku udah ada yang ngisi Rasya sayang.”
“Ha ??? Siapa ???cerita donk…please….”
“Enggak. Nanti kalau udah waktunya aku cerita’in.”
“Janji ???”
“janji.”
“OK !!!”
“Tapi yang kamu bilang tadi serius ???”
“Yang mana ???”
“Kamu tadi bilang kalau kamu nggak akan ngerebut aku dari Indah. Bahkan kamu enggak sudi.”
“Egh…soal itu…aku….waktu itu kan aku lagi emosi.”
“Jadi enggak serius kan ???”
“Ya enggaklah. Masak aku relain kamu sama orang yang nggak jelas asal-usulnya. Kalau sampai kejadian, aku bakal mati-matian ngerebut kamu dari dia. Mending kamu sama monyet dari pada sama dia. Masih banyak diluar sana yang lebih baik daripada dia.
“Makasih sayang.”
“he…he…he…emangnya kamu mau sama dia ???”
“Ya enggak dong. Kan udah ada Rasyaku sayang.” Rasya terseyum dengan perkata’an Tyo.
“Tapi…jangan panggil aku sayang didepan Eyang. Pikirannya pasti kemana-kemana.”
“Iya-iya. Lagian yang manggil sayang kan kamu duluan.”
“Iya sich. Kangen sama panggilan sayang, yang biasa diucapin Ayah sama aku. Enggak apa-apa kan ???”
“Iya. Nggak masalah kok. Terserah kamu mau panggil aku apa.”
Rasya tersenyum dan lega mendengar perkataan Tyo. Dia pikir Tyo akan marah sama dia, tapi ternyata tidak. Bahkan Tyo tidak mempermasalahkannya. Entah mengapa, akhir-akhir ini Rasya merasa nyaman saat berada didekat Tyo. Dia merasa ada yang melindunginya. Rasa yang berbeda. Rasya sendiri juga bingung, parasaan ini rasa kagum atau rasa cinta. Tapi dia tidah pusing memikirkannya, yang penting dia merasa bahagia selama ada Tyo disampingnya.
“Makan dulu yuk. Diwarung Bu Minah ??” Ajak Tyo pada Rasya.
“Ha ???Aku nggak bawa uang.”
“Untuk kali ini, aku yang traktir. Ya…sebagai ucapan selamat datang.”
“He…he…iya dech, daripada aku pingsan gara-gara kelaperan. Thank’s ya.”
“Iya sama-sama. Makanannya disana enak-enak. Semua orang dikampung ini udah langganan diwarung sana, jadi jangan kaget ya kalau disana bakalan rame, penuh sesak orang-orang yang kelaperan.”
“Kalah donk sama restoran kota ???”
“He…he…he…bisa aja kamu.”
“Kok ketawa ???emang ada yang lucu ???” ucapnya dengan rasa bingung.
“Udah, buruan nanti keburu habis.” Langkah Rasya mengikuti langkah Tyo yang tertinggal 3 langkah dibelakangnya.

*Bersambung*

0 komentar:

Posting Komentar

 

Cerita Kita Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates