Kaki kecil Rasya berjalan setapak demi
setapak menyusuri jalan kecil atau batas bidang sawah yang satu dengan yang
lainnya.
“Mas Tyo…!!!!Mas Tyo tunggu … !!!” Teriak
seorang perempuan dari kejahuan. Dia masih terlihat muda. Mungkin seumuran
dengan Rasya.
“Siapa dia ???” Tanya Rasya yang penasaran.
“Dia Indah. Gadis kampung sini. Dari dulu
dia udah naksir berat sama aku. Padahal udah aku tolak, tapi masih ngotot.”
“Kenapa enggak dicuekin aja ???”
“Enggak segampang itu Sya. Ayahnya kepala
desa kampung ini. Terus, aku disini dikenal pemuda yang santun dan menghargai
wanita. Kalau sampai aku ngapa-ngapain Indah sampai dia nangis, yang malu kedua
Orang Tuaku.”
“Ribet juga tinggal didesa. Eh..dia kesini
tuch.”
“Mas Tyo…mau kemana ??? Dek Indah ikut ya
mas ???” Tanya Indah sambil melirik Rasya dengan sinis.
“Emm…aduh…maaf dek Indah, bukannya nolak,
tapi sekarang aku masih ada tamu dari Eyang Wijaya.”
“Emangnya dia siapa to mas ???”Tanya Indah
dengan begitu penasaran, mungkin dia takut kalau Mas Tyonya direbut sama
perempuan lain.
“Dia cucunya Eyang. Sejak 3 hari yang lalu
dia udah tinggal disini dan rencananya mau menetap disini.”
“Baru rencanakan mas ??? Enggak serius ???”
“Enggak. Aku udah mutusin kalau aku mau
menetap disini selamanya. Kenapa ??? keberatan ???” Kata Rasya memotong dengan dibubuhi sedikit menyindir.
“Enggak kok. Ngapain aku keberatan ???
Enggak ada kerja’an aja. Mendingan mikirin mas tyo yang lebih dari segalanya
daripada kamu. Asal jangan ngerebut Mas Tyoku aja.” Ucap Indah dengan
mengacungkan jari telunjuknya pada Rasya.
“Ech…biasa aja donk mbak. Siapa juga yang
mau ngambil Mas Tyomu ini ???Enggak sudi.” Emosinya mulai naik.
“Ech…apa-apain sich ini ?? Udah jangan pada
berantem malu dilihatin orang kampung. Kalian ini kan perempuan, masak pakek
berantem segala ???”
“Dia dulu yang mulai Mas…”Kata Indah dengan
sedikit memelas. Mungkin untuk adegan memelas, Indah adalah jagonya. Semua akan
luluh dengan tampang melasnya yang begitu memikat.
“Disini semuanya salah. OK !!!”
“Bodo” Ujar Rasya sambil meninggalkan Tyo
dan Indah berdua ditengah sawah dengan angin semilir.
“Sya…Rasya…”Kata Tyo sambil berlalu meningglkan
Indah.
“Mas Tyo….Mas….Tunggu….kok aku ditinggalin
sich … Mas...Mas tyo ???Iih…….” Kata Indah dengan raut wajah yang cemberut
dankesal pada Rasya. Karena gara-gara dia Tyo berani ninggalin dia sendiri di
engah sawah.
D D D
“Dia pikir aku apa’an. Cewek penggoda gitu
???Dasar cewek kampung nggak tahu sopan santun. Ngakunya cewek kampung,
nyatanya kelakuannya kayak binatang. Emangnya dia siapa bisa nglrang-nglrang
aku deket sama Tyo ??? Pacarnya aja bukan, bahkan sama Tyo aja dia enggak dianggep
sama sekali. DASAR CEWEK KAMPUNG !!!”
“Rasya……….”
“Ngapain nyusul aku segala ??? Urusin tuch
dek Indahmu itu. Dia abis makan cabe ya…pedes banget omongannya.”
“Sya…dia orangnya emang begitu. Enggak bisa
diajak omong lembut sama semua cewek.”
“Apa ??? Sama semua cewek ??? Berarti semua
cewek yang ada di kampung ini udah pernah kena semprot cabenya dong ???”
“Ya…kurang lebih seperti itu.” Senyumku
menyambut kalimat Tyo.
“Emangnya kenapa ??? Gara-gara ngerebut kamu
dari tangannya ??? Iya ???”
“Ya…kurang lebih seperti itu.”
“Sebegitu tampannya ya sesosok Tyo Bagaskara
disini ???”
“Ya…kurang lebih seperti itu.
“Dari tadi jawabannya itu muluk. Tapi
tunggu,kayaknya semua perempuan yang ada
disini perlu pengobatan mata.”
“Ech…enak aja. Kamu pikir aku pemandangan yang kurang bagus ???”
“Kamu itu enggak ada bagus-bagusnya sayang.
Bagus dari mana ???”
“Ech…jangan salah. Aku ini laki-laki paling
tajir dan paling memikat semua perempuan yang ada desa ini. Tapi…nggak ada yang
cocok. Jadi ya…aku cuekin semua, kecuali Indah yang cerewetnya minta ampun.”
“Dasar cowok. Sukanya milih-milih. Dikasih
bagus masih minta yang lebih.”
“Siapa yang milih-milih ??? Aku enggak
milih-milih. Hatiku udah ada yang ngisi Rasya sayang.”
“Ha ??? Siapa ???cerita donk…please….”
“Enggak. Nanti kalau udah waktunya aku
cerita’in.”
“Janji ???”
“janji.”
“OK !!!”
“Tapi yang kamu bilang tadi serius ???”
“Yang mana ???”
“Kamu tadi bilang kalau kamu nggak akan
ngerebut aku dari Indah. Bahkan kamu enggak sudi.”
“Egh…soal itu…aku….waktu itu kan aku lagi
emosi.”
“Jadi enggak serius kan ???”
“Ya enggaklah. Masak aku relain kamu sama
orang yang nggak jelas asal-usulnya. Kalau sampai kejadian, aku bakal
mati-matian ngerebut kamu dari dia. Mending kamu sama monyet dari pada sama
dia. Masih banyak diluar sana yang lebih baik daripada dia.
“Makasih sayang.”
“he…he…he…emangnya kamu mau sama dia ???”
“Ya enggak dong. Kan udah ada Rasyaku
sayang.” Rasya terseyum dengan perkata’an Tyo.
“Tapi…jangan panggil aku sayang didepan
Eyang. Pikirannya pasti kemana-kemana.”
“Iya-iya. Lagian yang manggil sayang kan
kamu duluan.”
“Iya sich. Kangen sama panggilan sayang, yang
biasa diucapin Ayah sama aku. Enggak apa-apa kan ???”
“Iya. Nggak masalah kok. Terserah kamu mau
panggil aku apa.”
Rasya tersenyum dan lega mendengar perkataan
Tyo. Dia pikir Tyo akan marah sama dia, tapi ternyata tidak. Bahkan Tyo tidak
mempermasalahkannya. Entah mengapa, akhir-akhir ini Rasya merasa nyaman saat
berada didekat Tyo. Dia merasa ada yang melindunginya. Rasa yang berbeda. Rasya
sendiri juga bingung, parasaan ini rasa kagum atau rasa cinta. Tapi dia tidah
pusing memikirkannya, yang penting dia merasa bahagia selama ada Tyo
disampingnya.
“Makan dulu yuk. Diwarung Bu Minah ??” Ajak
Tyo pada Rasya.
“Ha ???Aku nggak bawa uang.”
“Untuk kali ini, aku yang traktir.
Ya…sebagai ucapan selamat datang.”
“He…he…iya dech, daripada aku pingsan
gara-gara kelaperan. Thank’s ya.”
“Iya sama-sama. Makanannya disana enak-enak.
Semua orang dikampung ini udah langganan diwarung sana, jadi jangan kaget ya
kalau disana bakalan rame, penuh sesak orang-orang yang kelaperan.”
“Kalah donk sama restoran kota ???”
“He…he…he…bisa aja kamu.”
“Kok ketawa ???emang ada yang lucu ???”
ucapnya dengan rasa bingung.
“Udah, buruan nanti keburu habis.” Langkah
Rasya mengikuti langkah Tyo yang tertinggal 3 langkah dibelakangnya.
*Bersambung*
0 komentar:
Posting Komentar