Jumat, 01 Februari 2013

0 Tentang Kita Part 6


“Tadi kenapa kamu senyum-senyum ???ada yang lucu apa sama omongannya Eyang ???”
“Enggak ada. Ya…lucu aja, ternyata Eyang masih bisa bercanda juga, walaupun udah tua.”
“HA  ???Cuma gara-gara itu kamu anggap lucu ??? Dasar orang aneh.”
Senyum Tyo terulang lagi, tapi ini lebih lebar dari yang sebelumnya. Sejak kecil, Tyo udah suka sama Rasya. Walaupun mereka jarang ketemu, tapi dari waktu yang sulit untuk bertemu itulah yang membuat  Tyo semakin sayang dan suka sama Rasya. Tapi mungkin Rasya enggak menyadari itu semua. Rasya hanya menganggap mereka adalah sahabat. Sahabat yang mereka jalin sejak kecil sampai sekarang ini. Tyo sadar bahwa dulu mereka sangat tidak cocok. Ibarat si kaya dan si miskin. Tetapi sekarang berubah, Tyo bisa menjamin kebahagian Rasya karena sekarang di sudah mapan. Entah tafsirannya benar atau salah bahwa cinta dibandingkan dengan harta.
“Tyo, kita mau kemana dulu ???”
“Emm…terserah kamu aja.”
“Lho kok terserah aku sich ???yang tahu desa inikan kamu Tyo sayang bukan aku ??? kok malah aku yang suruh pilih ???”
‘Apa ??? Tyo sayang ???’ Pikir Tyo bingung.
“Hallo … ??? Masih ada orangnya kan ???” Kata Rasya sambil melambaikan tangannya didepan muka Tyo.
“Eh…ya masih ada-lah.”
“Ouw…masih hidup ternyata…he…he…he…jadi kemana dulu nich ???” Kata Rasya yang tak sabar untuk mengelilingi desa cantik dan indah ini.
“Kita ke mulai dari pintu masuk aja, biar enggak ribet. Soalnya aku tau kamu cerewet.”
“Ih…siapa yang cerewet ??? Itu kan dulu waktu aku masih kecil, sekarang kan aku udah besar. Udah enggak cerewet lagi kayak dulu Tyo.”
“Iya Rasya kecil.” Ucap Tyo menggoda.
“Kecil ??? Aku kan udah bilang kalau aku gede.”
“Tapi kamu masih kecil dari aku kan ???”
“Iya sich. Tap
“Ya udah berarti aku nggak salah donk.”
“Hmm….terserah dech. Daripada kita enggak kelar-kelar.” Ucapku dengan cemberut dan senyuman di raut wajah Tyo yang makin lama makin kelihatan ganteng. Hehe…

D                 D                 D

Sejak pukul 10 pagi, mereka menikmati perjalan dengan canda tawa dan bercerita tentang masa lalu yang pernah mereka lakukan bersama. Tyo tak menyangka gadis kecilnya dulu sekarang tumbuh menjadi sesosok wanita yang cantik dan menawan begitu pula dengan Rasya, dia tak menyangka bahwa anak kecil yang dulu selalu menemaninya saat berkunjung dirumah Eyang tumbuh menjadi sesosok laki-laki yang tampan dan seorang arsitek diperusahaan besar dan ternama. Bahkan sekarang sudah memiliki restoran sendiri untuk para wisatawan di Yogyakarta.
Mereka saling mengagumi satu sama lain. Dari kecil, mereka hampir tidak pernah bertengkar. Sampai saat ini, mereka juga baik-baik saja, tak ada masalah yang menghampiri mereka. Mereka berharap semua ini akan berjalan terus sampai mereka tua nanti.
“Kita duduk disana aja.” Kata Tyo sambil menuju tempat duduk, dibawah pohon yang rindang dan tepat menuju hamparan sawah yang hijau sempurna.
“Capek juga keliling desa. Sama harus hafalin tempat ini satu per satu.”
“Nanti juga hafal sendiri kok. Mau minum ??? aku beli’in.”
“Egh…enggak usah. Nggak apa-apa kok, lagian cuma capek doank.” Katanya sambil memandang hamparan sawah yang hijau dan begitu luas. Bahkan udaranya menghilangkan semua dahaganya.
“Kamu cantik.” Ucap Tyo lirih sampai tak terdengar oleh telinga Rasya.
“Apa ???tadi kamu bilang apa ???enggak jelas” Tanya Rasya sambil menyilakan rambutnya yang terhempas angin.
“Enggak apa-apa kok. Enggak begitu penting.”
“Ouw…ya udah. Eh…habis ini kesawah yuk.”
“Ngapain ???Panas Sya. Nanti kalau kamu item gimana ??? biasanya cewek kan takut yang namanya item.”
“Siapa bilang. Aku enggak. Kalau emang item kenapa ??? udah takdirnya. Nggak usah dirubah-rubah. Lagian aku juga tahan panas kok. Panas disini masih mending daripada Bali. Kamu lupa kalau aku dari Bali ???”
“Bukannya lupa, tapi kemungkinan itu selalu ada neng.”
“Ya…may be yes…may be no…” Kata Rasya sambil kembali memandang hamparan sawah. Tyo hanya tersenyum sekilas.
“Jalan lagi yuk. Ke sawah.”
“HA ??? Kamu itu, kecil-kecil tenaganya gede, istirahat dulu lah Rasya sayang. Baru juga nyampek.”
“Tyo sayang, aku udah kelar. Sekarang aku mau jalan lagi. OK !!”
“Iya deh. Terserah apa kata kamu, tapi nanti kalau kecapekan jangan salahin aku.”
“Iya. Ayo turun kesawah. I’am coming !!”

*Bersambung*

0 komentar:

Posting Komentar

 

Cerita Kita Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates