“Tadi kenapa kamu senyum-senyum ???ada yang
lucu apa sama omongannya Eyang ???”
“Enggak ada. Ya…lucu aja, ternyata Eyang
masih bisa bercanda juga, walaupun udah tua.”
“HA
???Cuma gara-gara itu kamu anggap lucu ??? Dasar orang aneh.”
Senyum Tyo terulang lagi, tapi ini lebih
lebar dari yang sebelumnya. Sejak kecil, Tyo udah suka sama Rasya. Walaupun
mereka jarang ketemu, tapi dari waktu yang sulit untuk bertemu itulah yang
membuat Tyo semakin sayang dan suka sama
Rasya. Tapi mungkin Rasya enggak menyadari itu semua. Rasya hanya menganggap
mereka adalah sahabat. Sahabat yang mereka jalin sejak kecil sampai sekarang
ini. Tyo sadar bahwa dulu mereka sangat tidak cocok. Ibarat si kaya dan si
miskin. Tetapi sekarang berubah, Tyo bisa menjamin kebahagian Rasya karena
sekarang di sudah mapan. Entah tafsirannya benar atau salah bahwa cinta
dibandingkan dengan harta.
“Tyo, kita mau kemana dulu ???”
“Emm…terserah kamu aja.”
“Lho kok terserah aku sich ???yang tahu desa
inikan kamu Tyo sayang bukan aku ??? kok malah aku yang suruh pilih ???”
‘Apa ??? Tyo sayang ???’ Pikir Tyo bingung.
“Hallo … ??? Masih ada orangnya kan ???”
Kata Rasya sambil melambaikan tangannya didepan muka Tyo.
“Eh…ya masih ada-lah.”
“Ouw…masih hidup ternyata…he…he…he…jadi
kemana dulu nich ???” Kata Rasya yang tak sabar untuk mengelilingi desa cantik
dan indah ini.
“Kita ke mulai dari pintu masuk aja, biar
enggak ribet. Soalnya aku tau kamu cerewet.”
“Ih…siapa yang cerewet ??? Itu kan dulu
waktu aku masih kecil, sekarang kan aku udah besar. Udah enggak cerewet lagi
kayak dulu Tyo.”
“Iya Rasya kecil.” Ucap Tyo menggoda.
“Kecil ??? Aku kan udah bilang kalau aku
gede.”
“Tapi kamu masih kecil dari aku kan ???”
“Iya sich. Tap─”
“Ya udah berarti aku nggak salah donk.”
“Hmm….terserah dech. Daripada kita enggak
kelar-kelar.” Ucapku dengan cemberut dan senyuman di raut wajah Tyo yang makin
lama makin kelihatan ganteng. Hehe…
D D D
Sejak pukul 10 pagi, mereka menikmati
perjalan dengan canda tawa dan bercerita tentang masa lalu yang pernah mereka
lakukan bersama. Tyo tak menyangka gadis kecilnya dulu sekarang tumbuh menjadi
sesosok wanita yang cantik dan menawan begitu pula dengan Rasya, dia tak
menyangka bahwa anak kecil yang dulu selalu menemaninya saat berkunjung dirumah
Eyang tumbuh menjadi sesosok laki-laki yang tampan dan seorang arsitek
diperusahaan besar dan ternama. Bahkan sekarang sudah memiliki restoran sendiri
untuk para wisatawan di Yogyakarta.
Mereka saling mengagumi satu sama lain. Dari
kecil, mereka hampir tidak pernah bertengkar. Sampai saat ini, mereka juga
baik-baik saja, tak ada masalah yang menghampiri mereka. Mereka berharap semua
ini akan berjalan terus sampai mereka tua nanti.
“Kita duduk disana aja.” Kata Tyo sambil
menuju tempat duduk, dibawah pohon yang rindang dan tepat menuju hamparan sawah
yang hijau sempurna.
“Capek juga keliling desa. Sama harus
hafalin tempat ini satu per satu.”
“Nanti juga hafal sendiri kok. Mau minum ???
aku beli’in.”
“Egh…enggak usah. Nggak apa-apa kok, lagian cuma
capek doank.” Katanya sambil memandang hamparan sawah yang hijau dan begitu
luas. Bahkan udaranya menghilangkan semua dahaganya.
“Kamu cantik.” Ucap Tyo lirih sampai tak
terdengar oleh telinga Rasya.
“Apa ???tadi kamu bilang apa ???enggak
jelas” Tanya Rasya sambil menyilakan rambutnya yang terhempas angin.
“Enggak apa-apa kok. Enggak begitu penting.”
“Ouw…ya udah. Eh…habis ini kesawah yuk.”
“Ngapain ???Panas Sya. Nanti kalau kamu item
gimana ??? biasanya cewek kan takut yang namanya item.”
“Siapa bilang. Aku enggak. Kalau emang item
kenapa ??? udah takdirnya. Nggak usah dirubah-rubah. Lagian aku juga tahan
panas kok. Panas disini masih mending daripada Bali. Kamu lupa kalau aku dari
Bali ???”
“Bukannya lupa, tapi kemungkinan itu selalu
ada neng.”
“Ya…may be yes…may be no…” Kata Rasya sambil
kembali memandang hamparan sawah. Tyo hanya tersenyum sekilas.
“Jalan lagi yuk. Ke sawah.”
“HA ??? Kamu itu, kecil-kecil tenaganya
gede, istirahat dulu lah Rasya sayang. Baru juga nyampek.”
“Tyo sayang, aku udah kelar. Sekarang aku
mau jalan lagi. OK !!”
“Iya deh. Terserah apa kata kamu, tapi nanti
kalau kecapekan jangan salahin aku.”
“Iya. Ayo turun kesawah. I’am coming !!”
*Bersambung*
0 komentar:
Posting Komentar