“Eyang…Rasya pamit dulu ya.” Pamit Rasya
nyelonong langsung menuju pintu depan.
“Eh…tunggu dulu to nduk, kamu mau kemana to
nduk ???enggak nunggu Tyo dulu ???” Tanya Eyang membuat langkah Rasya terhenti.
“Rasya enggak janjian sama Tyo yang, Rasya
pengen jalan-jalan sendiri. Nanti kalau Tyo dateng nggak usah nyari’in Rasya.
Nanti malam Rasya mau maen kerumahnya. Ya udah nek, takut telat nich. Dada
Eyang…Rasya sayang sama Eyang.” Ucap Rasya sambil berlalu dan melambaikan
tangan pada wanita tua renta yang sedang melambaikkan tangannya untuk balasan
dengan raut wajah yang dipenuhi senyuman-senyuman kecil.
Sekitar 15 menit kemudian, ternyata yang
diduga Eyang benar. Tyo datang kerumah dan pastinya mencari Rasya.
“Eyang…Ad─”
“Rasya kan ???tadi dia keluar tapi Eyang
enggak tahu kemana, terus pesannya tadi, kamu enggak usah nyari’in soalnya
nanti malam dia mau main kerumah kamu.”
“O..gitu ya yang. Padahal Tyo mau ajak
jalan-jalan wisata kuliner didesa ini.”
“Belum waktunya. Ditundakan bisa to le.”
“Iya udah dech…Tyo pamit dulu ya Eyang.
Mangga.”
D D D
“Pagi Bu Minah….”
“Pagi…ealah nak Rasya. Ayo duduk sini. Mau
makan apa ???”
“Saya kesini nggak mau makan bu. Saya mau
ngomong sesuatu sama Ibu Minah.”
“Waduh…ngomong apa ya nduk. Ibu kok jadi
deg-degan kayak gini.”
“Ibu tenang aja. Saya nggak akan nyakitin
Ibu kok. Kedatangan saya kesini, saya mau nawarin bisnis sama ibu.”
“Bisnis opo to nduk ???Ibu enggak mudeng.”
“Gini bu, Tyo kan punya restoran dikota,
kenapa makanan ibu yang khas ini enggak dijual disana aja, kalau lakukan
lumayan bisa menambah penghasilan.”
“Aduh nduk, Ibu nggak berani, takutnya orang
kota itu enggak suka.”
“Dicoba aja dulu bu. Kalau tidak dicoba kan
ya…mana bisa tahu hasilnya ???”
“Enggak usah repot-repot nduk, ini aja udah
cukup. Terimakasih.”
“Ya udah, gini aja…gimana kalau percobaan
satu bulan, kalau enggak berhasil saya yang tanggung ganti rugi selama satu
bulan, tapi kalau dalam satu bulan bisa laku keras, ibu mau kan buat makanan
ini untuk restorannya Tyo ???”
“Aduh piye ya nduk, Ibu bingung.”
“Kalau masih bingung, saya kasih waktu buat
Ibu mikir. Gimana ???”
“3 hari.”
“OK..kalau Ibu maunya 3 hari saya turutin.
Tapi harus dipertimbangkan sematang mungkin. Kalau ibu untungkan bisa
nyekolahin anak Ibu yang paling kecil, terus bisa ngelanjutin ke perguruan
tinggi untuk anak ibu yang sulung.” Rayu Rasya agar Ibu Minah mau mengikuti
permainannya.
“Iya udah bu. Rasya pamit dulu, 3 hari lagi
saya kesini. Mari.”
“Iya nduk. Mari-mari.” Ucap Ibu Minah.
‘Yes….akhirnya, moga aja Ibu Minah mau, tapi
aku yakin 100% kalau Ibu pasti mau sama tawaran aku.’ Gumam Rasya dalam hati.
Namun, lamunan kebahagiaan rasya hancur saat
dia bertemu Indah ditengah perjalanan pulang. Sungguh diluar rencana Rasya. Dia
tak mau marah-marah hari ini. Tapi sepertinya itu akan terjadi padanya saat ini
juga.
“Hei…” Sapa Indah padanya.
“Siapa ??? Aku ???” Rasya pura-pura
bertanya, padahal dia tahu siapa yang dimaksud Indah.
“Iya…sampeyan.” Jawab Indah dengan sejuta
mata iblis yang akan siap keluar menerkam Rasya.
“Kenapa ???” Tanya Rasya.
“Eh…aku bilangin ya…jangan suka cari
perhatian sama Mas Tyoku. Ngdrti ???”
“Siapa ??? Mas Tyomu ??? Kalian udah pacaran
???belumkan jadi kenapa aku jauhin dia ???” Tanya Rasya beruntun membuat Indah
terjepit pada posisinya yang angkuh itu. Rasya sempat berfikir.
‘Ada juga orang desa yang sombong dan
angkuh.’
“Ya…walaupun kita belun resmi, tapi aku
yakin Mas Tyo akan memilih aku daripada kamu. Lagian apa sich bagusnya kamu ???
Jangan mentang-mentang anak kota, kamu bisa berbuat sesuka hatimu.”
“Ma’af ya…aku bukan orang seperti itu, jadi
aku mohon jangan sembarangan memfitnah orang.”Ucap rasya menahan emosinya.
“Aku tidak memfitnah itu kenyataan.”
“Terserah kamu lah mau ngomong apa tentang
aku. Tapi yang pasti, aku bukan orang yang seperti kamu pikirkan. Permisi.”
Kata Rasya melewati Indah dan tak mempedulikan lagi Indah yang masih berdiri
dengan bodohnya. Tapi seperti Indah tak mau kalah.
“Ya…terserah sich, tapi yang pasti dalam
waktu dekat ini Mas Tyo akan meminang aku menjadi istrinya.” Ucap Indah dengan
penuh keyakinan. Seketika itu juga Rasya langsung membalikkan badannya dan
melihat Indah dengan bangganya mengucapkan kata-katanya itu diikuti senyum
nenek sihir seakan mengejek Rasya.
“Bodo’. Peduli amat.” Kemudian rasya
membalikkan badannya lagi dan menjauh dari nenek sihir gadungan itu karena dia
sudah menahan emosinya melampaui batas.
*Bersambung*
0 komentar:
Posting Komentar