Hari ini bener-bener buatku gila. Nggak pernah kebayang
kalau semua ini bakal terjadi. Aneh, bener-bener aneh.
“Kok bisa ?”
“Apanya ?” Tanyaku bingung.
“Juna.”
“Oh, yang itu. Aku sendiri juga nggak tau. Tiba-tiba dia
datang minta ijin sama Papa dan terjadilah perang dingin ini.”
“Gila ! Piala Citra buat kamu Ra. Seorang Tiara, cewek
yang sama sekali nggak kepengaruh dengan pesona seorang Arjuna sekarang jadi
pendamping pangeran tampan para bidadari.”
“Alay banget sih, inget ya Nit, aku sama Juna itu cuma
temen, nggak lebih, dan kita baru kenal sabtu kemarin. Jadi nggak usah
membesar-besarkan gosip yang nggak jelas.”
“Oke-oke. Tapi sekarang coba kamu pikir. Kenapa Juna
kayak gitu ? Slama ini dia nggak pernah bawa cewek dimobilnya, kecuali kamu
Ra.”
“Kata siapa ? kita ini kelas X, siapa tau tahun kemarin
dia udah pernah bawa cewek ke mobilnya.”
“Hello... lupa ya kalo kakakku sekolah disini ? Dia
banyak cerita soal Juna. Dulu, Kak Intan juga slaah satu fans Juna tau.”
“O iya.. aku lupa. Terus ?”
“Berarti dia ada rasa sama kamu Ra. Sikapnya, cara
ngomongnya, cara mandangnya, itu beda Ra. Ayolah Ra, peka sedikit kenapa ?”
“Hehe, stop Nit, jangan bikin aku tambah
melayang-melayang. Dipikir simpel ajalah. Kalau emang dia ada rasa, tunggu
tanggal mainnya aja. Gimana ?”
“Oke. Dan aku yakin kalau Arjuna itu punya rasa sama
kamu.”
“Ya... terserah deh.”
Pelajaran usai. Hari panjang menanti. Bener-bener bad
mood. Nggak tau harus salahin siapa. Bingung sendiri jadinya. Tapi, anehnya
dari tadi nggak ada satu pun cewek yang datengin aku buat ngomel-ngomel nggak
jelas. Mereka kelihatan seperti nggak -terjadi apa-apa. Apa yang udah dilakuin
Juna ?
“Hai cantik.” Sapa Juna mengagetkanku.
“Eh, ada perlu apa ?”
“Ya pulang lah.”
“Pulang ? aku bisa sendiri. Nggak perlu dianter.”
“Nggak bisa. Itu namanya aku bukan cowok yang
bertanggungjawab. Aku nggak mau jadi anak nakal dimata Papa kamu.”
“Papa nggak bakal mikir kayak gitu. Aku bisa pulang
sendiri.”
“Enggak. Sekali nggak bisa tetep nggak bisa. Tiara Eka
Pratiwi harus pulang sama Arjuna Eka Prasetyo. Titik. Nggak ada tawar menawar.”
“Hehe...Iya deh.” Ucapku dengan senyuman menghiasi bibir.
Juna... Juna. Gimana aku mau nolak ajakanmu kalau tiap
aku mau nolak, kamu selalu punya trick yang buat aku tersenyum. Caramu
membuatku tersenyum itu kadang menjadi bumerang bagiku. Takut suatu saat ini
akan hilang dari hidupku. Sempat terlintas dibenakku, kalau kamu hanya singgah
sementara dihidupku. Bukan untuk selamanya.
*To Be Continued*
0 komentar:
Posting Komentar