Jumat, 08 Februari 2013

0 Cinta Senja Itu Chapter 5


Hari ini bener-bener buatku gila. Nggak pernah kebayang kalau semua ini bakal terjadi. Aneh, bener-bener aneh.
“Kok bisa ?”
“Apanya ?” Tanyaku bingung.
“Juna.”
“Oh, yang itu. Aku sendiri juga nggak tau. Tiba-tiba dia datang minta ijin sama Papa dan terjadilah perang dingin ini.”
“Gila ! Piala Citra buat kamu Ra. Seorang Tiara, cewek yang sama sekali nggak kepengaruh dengan pesona seorang Arjuna sekarang jadi pendamping pangeran tampan para bidadari.”
“Alay banget sih, inget ya Nit, aku sama Juna itu cuma temen, nggak lebih, dan kita baru kenal sabtu kemarin. Jadi nggak usah membesar-besarkan gosip yang nggak jelas.”
“Oke-oke. Tapi sekarang coba kamu pikir. Kenapa Juna kayak gitu ? Slama ini dia nggak pernah bawa cewek dimobilnya, kecuali kamu Ra.”
“Kata siapa ? kita ini kelas X, siapa tau tahun kemarin dia udah pernah bawa cewek ke mobilnya.”
“Hello... lupa ya kalo kakakku sekolah disini ? Dia banyak cerita soal Juna. Dulu, Kak Intan juga slaah satu fans Juna tau.”
“O iya.. aku lupa. Terus ?”
“Berarti dia ada rasa sama kamu Ra. Sikapnya, cara ngomongnya, cara mandangnya, itu beda Ra. Ayolah Ra, peka sedikit kenapa ?”
“Hehe, stop Nit, jangan bikin aku tambah melayang-melayang. Dipikir simpel ajalah. Kalau emang dia ada rasa, tunggu tanggal mainnya aja. Gimana ?”
“Oke. Dan aku yakin kalau Arjuna itu punya rasa sama kamu.”
“Ya... terserah deh.”

Pelajaran usai. Hari panjang menanti. Bener-bener bad mood. Nggak tau harus salahin siapa. Bingung sendiri jadinya. Tapi, anehnya dari tadi nggak ada satu pun cewek yang datengin aku buat ngomel-ngomel nggak jelas. Mereka kelihatan seperti nggak -terjadi apa-apa. Apa yang udah dilakuin Juna ?
“Hai cantik.” Sapa Juna mengagetkanku.
“Eh, ada perlu apa ?”
“Ya pulang lah.”
“Pulang ? aku bisa sendiri. Nggak perlu dianter.”
“Nggak bisa. Itu namanya aku bukan cowok yang bertanggungjawab. Aku nggak mau jadi anak nakal dimata Papa kamu.”
“Papa nggak bakal mikir kayak gitu. Aku bisa pulang sendiri.”
“Enggak. Sekali nggak bisa tetep nggak bisa. Tiara Eka Pratiwi harus pulang sama Arjuna Eka Prasetyo. Titik. Nggak ada tawar menawar.”
“Hehe...Iya deh.” Ucapku dengan senyuman menghiasi bibir.

Juna... Juna. Gimana aku mau nolak ajakanmu kalau tiap aku mau nolak, kamu selalu punya trick yang buat aku tersenyum. Caramu membuatku tersenyum itu kadang menjadi bumerang bagiku. Takut suatu saat ini akan hilang dari hidupku. Sempat terlintas dibenakku, kalau kamu hanya singgah sementara dihidupku. Bukan untuk selamanya.


*To Be Continued*

0 komentar:

Posting Komentar

 

Cerita Kita Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates