Semenjak Juna ada dalam
bagian hidupku. Aku merasa dunia lengkap. Aku punya Mama-Papa yang selalu
membimbing dalam setiap langkah, Nita sahabat sejatiku yang siap ada dalam suka
maupun duka dan Arjuna yang ada disaat aku butuh kekuatan. Mungkinkah aku jatuh
cinta pada Juna ? Sesosok laki-laki yang sekarang akrab denganku bahkan dengan
anggota keluargaku. Dia sudah seperti bagian dari keluargaku. Kita sering
melakukan hal sama-sama.
Perlahan aku mulai
memahami rasa yang tak pasti ini. Dan sekarang akupun tau, bahwa diriku telah
jatuh cinta padanya. Pada Arjuna Eka Prasetyo. Rasa ini tak bisa lagi
dibohongi. Rasa ini jelas-jelas terukir dalam hatiku dengan indah. Aku cinta
Juna. Entah cinta ini akan berakhir bahagia, atau bertepuk sebelah tangan. I
don’t know. God ! Please... help me.
“Keluar yuk.”
“Kemana ?” Tanyaku
penasaran.
“Emm... jalan-jalan ke
taman gimana ? sore-sore kayak gini enak juga.”
“Oke. Ayo.” Ku iyakan
ajakan Juna. Tak pernah aku menolak ajakannya jika aku tidak dalam kondisi
sibuk.
Sore itu, benar-benar
suasana yang mendukung. Kita duduk dipinggir kolam ikan. Karena menurutku
disana adalah tempat yang paling nyaman untuk ngobrol.
“Ra...”
“Iya.”
“Boleh aku jujur ?”
Deg...
‘Please jangan bilang
macem-macem Jun.’ Batinku.
“Ya boleh lah. Mau
jujur tentang apa ?”
“Tentang diriku.”
“Oke. Silakan, aku
siap menjadi pendengar yang baik.” Ucapku sedikit memaksakan senyum.
“Dari kelas 2 SMP. Aku
sudah mengagumimu.”
“Apa ? nggak salah,
seorang Arjuna yang populer disekolah mengagumi seorang gadis biasa ?”
“Aku serius Ra.”
“hehe.. oke-oke. Terus
?”
“Mulai saat itu aku
memperhatikanmu walaupun dari jauh. Setiap kegiatan yang kamu lakukan, mulai
dari lari pagi setiap weekend, jalan-jalan sore ditaman disaat lagi bad mood,
suka ngemil dirumah sampek nggak boleh absen buat beli cemilan ditoko, nglamun
depan jendela kalo lagi ada masalah, banyak lah, nggak bisa sebutin satu-satu.”
‘Juna... OMG...
segitunya kah ? bener-bener nggak kebayang, hampir 3 tahun kamu nglakuin ini
semua. Demi aku.’
“Aku sendiri juga
nggak tau kenapa sampek segitunya sama kamu Ra. Tapi setiap lihat kamu, hati
ini nyaman.”
“Juna...”
“Maaf baru sekarang
aku berani terang-terangan sama kamu. Jujur, dulu aku takut untuk mengenalmu.
Aku terlalu takut kehilangan Tiara yang bisa buat hati ini tenang hanya dengan
melihat wajahnya. Tapi sekarang nggak. Aku disampingmu, aku bisa menyentuhmu
dan ini nyata.”
‘Aku mau ngomong apa ?
Kenapa ni mulut nggak bisa gerak ?’ Gumamku dalam hati.
“Dan satu lagi.”
“Apa ?” Akhirnya bisa
keluar walaupun Cuma satu kata.
“Aku cinta kamu Ra.
Aku sayang kamu. Aku ingin slalu disampingmu. Aku ingin terbang diudara seperti
sepasang merpati putih yang slalu setia.”
“Aku juga cinta kamu
Juna. Aku sayang kamu dan aku mau jadi sepasang merpati putih yang slalu setia.”
Ucapku tanpa keraguan dihati.
“Makasih Tiara.”
Sore yang paling indah yang pernah aku alami. Arjuna,
laki-laki itu telah meluluhkan hati ini. Aku harap ini akan abadi.
*To Be Continued*
0 komentar:
Posting Komentar